Saat ini, mayoritas orang yang ada di dunia ini sudah memiliki handphone, karena Handphone bukan lagi barang mewah, namun merupakan kebutuhan pokok. Mengapa demikian? karena di jaman now ini komunikasi sangatlah penting. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, anak terlambat pulang sekolah bisa hubungi lewat handphone, Pak suami ketinggalan dokumen bisa hubungi lewat video call, bahkan bangun tidurpun yang pertama kali dilihat adalah handphone, Ibu males kepasar sudah ada belanja online dengan aplikasi handphone.

Bicara soal handphone tentunya tidak lepas dari SIM CARD. Selama ini operator cukup banyak mengeluarkan biaya untuk membeli kartu SIM dalam jumlah besar. Karena kebiasaan masyarakat “beli dan buang”, sehingga ongkos beli kartu SIM tidak efisien bagi operator seluler.

Dalam hal ini Operator seluler masih mengandalkan industri asing yang memproduksi kartu SIM, bahkan setiap tahunnya  ada sekitar 500 juta kartu sim yang dibeli oleh operator seluler untuk dijual di Indonesia. Dengan perilaku konsumen dalam beli dan buang, ini harus kita rubah, setidaknya minimal bisa kita pangkas sampai 300 juta per tahun.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Chief Rudiantara mengeluarkan Kebijakan terhadap Registrasi SIM CARD prabayar, bagi siapa saja yang menggunakan SIM CARD prabayar harus melakukan registrasi terlebih dahulu dengan mekanisme pendaftaran nomor baru, bukan nomor lama. Namun Rudiantara mengembalikan Kebijakan ini ke operator masing-masing, apakah nomor yang belum di registrasi masih bisa aktif atau tidak, mekanismenya juga diserahkan ke Industri.

Kemudian bila nanti kalau mau di-recycle oleh operator dalam beberapa hari boleh, asalkan melayani lewat ritel saja atau lewat mana saja silahkan. Namun strategi distribusi itu merupakan kebijakan operator, saya tidak akan turut ikut campur karena itu ada faktor kompetisi. Yang jelas, saya tegaskan bahwa setiap nomor prabayar yang aktif harus melalui tahap registrasi dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK), tidak boleh aktif sebelum registrasi, ucap Bapak Rudiantara selaku Menkominfo.

Nomor Induk Kependudukan (NIK) bisa digunakan lebih dari 3 nomor kartu SIM dan tidak memiliki batasan jumlah nomor yang bisa diregistrasikan dengan satu NIK, hal ini tertuang dalam surat implementasi registrasi kartu SIM yang didistribusikan kepada masing-masing operator seluler.

Dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018 disebutkan bahwa operator wajib melaksanakan Surat Edaran Menteri Kominfo untuk memberikan hak kepada outlet untuk menjadi mitra pelaksana registrasi termasuk nomor pelanggan ke-4 dan seterusnya sesuai undang-undang.

Pada awalnya Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa nomor pelanggan yang melewati batas registrasi akan dinonaktifkan alias hangus sehingga nomor tersebut tak akan lagi bisa digunakan, namun lewat surat edaran ini diputuskan bahwa pengguna bisa mengaktifkan kembali nomor yang melewati batas registrasi sampai tenggang akhir bulan. Akan tetapi pengguna harus melakukan registrasi sesuai dengan mekanisme pendaftaran nomor baru, bukan mekanisme daftar ulang.

Dalam kebijakan Menkominfo Terhadap Registrasi SIM CARD prabayar dibuat untuk melindungi pengguna dan menjaga kerahasiaan data pribadi pelanggan sesuai dengan aturan perundang-undangan. Dan registrasi ini akan melindungi konsumen dari tindak pidana seperti penipuan melalui pesan singkat atau telepon yang marak terjadi, karena pemerintah dapat menelusuri identitas dari pemilik nomor yang digunakan untuk penipuan.

Wah … jadi lebih aman dari penipuan yang sering kita dengar dari pesan singkat seperti mama minta pulsa, dapat hadiah 150 juta dengan harus mentransfer uang. Sekarang ini Menkominfo lebih selektif dalam mengambil kebijakan terhadap SIM CARD prabayar, sehingga masyarakat bisa menikmati layanan telekomunikasi pra bayar. (ss)

1 COMMENT