Nama lengkapnya Wahdatul Aini akrab dipanggil Reni. Profesinya sebagai pedagang sayur keliling. Di setiap kesempatan bertemu dengan konsumen yang kebanyakan ibu-ibu, tak segan mengingatkan mereka mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.

Aktivitas Reni dimulai setiap pukul satu dini hari. Ketika dinginnya udara Ngawi memeluk lelap para tetangga, Reni sudah berangkat ke pasar untuk berbelanja untuk bahan dagangannya. Semua dijalankan dengan ikhlas demi membantu suami menghidupi keluarga kecilnya. Dari pernikahannya, perempuan 25 tahun ini dikaruniai seorang anak perempuan berusia 5 tahun.

Padatnya aktivitas berdagang sayur keliling rupanya tak mampu membendung minat Reni untuk belajar. Setiap ada workshop atau penyuluhan di balai desa, ibu muda berpembawaannya riang, ceplas ceplos, tapi santun ini sering menyempatkan diri untuk ikut.

Dan, semuanya berawal dari sebuah workshop yang kesehatan reproduksi. Workshop tersebut diadakan organisasi perempuan Aisyiyah yang didukung LSM luar negeri, MAMPU. Berbagai penjelasan dalam workshop ini membuat Reni tergerak memeriksakan tes IVA dan Papsmear. Hasil tesnya, ia terkena sariawan Rahim.

Singkat cerita, Reni harus menjalani pengobatan. Sembari berobat, ia penjelasan lebih jauh mengenai kesehatan reproduksi dari tenaga medis di Puskesmas Desa Kauman, Ngawi. Sampai akhirnya, Reni dinyatakan sembuh.

Namun, Reni tak hanya memendam pengalamannya sendiri. Dari satu tempat ke tempat lain, ia selalu meyakinkan pelanggannya yang mayoritas perempuan untuk memeriksakan tes IVA dan Papsmear.

Reni sadar dirinya tak mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, ia menyampaikan pengetahuan yang didapat dari workshop dan pengalamannya dengan bahasa yang sederhana. Ia bercerita bahwa untuk ikut tes tersebut di desanya tidak mahal karena ada bantuan dari LSM dan pemerintah. Selain itu, ia meyakinkan, proses pemeriksaan tidak sakit.

Reni, Tukang Sayur Pejuang Kesehatan Reproduksi
Reni, Tukang Sayur Pejuang Kesehatan Reproduksi

“Saya bahkan tak segan mengantarkan teman-teman, tetangga, atau pelanggan saya untuk memeriksakan tes IVA atau Papsmear ke puskesmas. Karena, biasanya mereka ingin diantar untuk mengatasi rasa takut,” kata Reni.

Dari inisiatif dan kepeduliannya ini, Reni diangkat menjadi kader untuk program Balai Sakinah Aisyiyah di Dusun Nglencong, Desa Kauman. Ia menjadi partner dan kader untuk mendampingi masyarakat khususnya pasangan usia subur di sana untuk mendapatkan edukasi dan pendampingan.

“Reni melakukan semuanya atas keinginan dia sendiri. Luar biasanya, banyak pelanggan yang suka membeli sayur ke Reni dari desa-desa tetangga ikut serta pelatihan tentang kesehatan reproduksi di Dusun Nglencong berkat cerita dan ajakannya. Tak sedikit juga yang ikut memeriksakan tes IVA dan Papsmear,” katanya Siti Nursyamsi, Pimpinan Ranting Aisyiyah Desa Kauman.

Suami Reni pun sangat suportif terhadap kegiatannya. Menurutnya, selagi tidak mengganggu urusan rumah tangga dan mengurus anak, dia turut senang jika kegiatan istrinya bermanfaat untuk orang lain.

Ilmu pengetahuan yang disebarkan dengan cara asyik seperti yang dilakukan Reni, cepat sekali diserap dan dipercaya warga. Pembawaan Reni yang mudah akrab, tanpa kesan menggurui, dan berbagi pengalamannya pribadi membuat pesan-pesannya mudah dimengerti.

Ketika ditanya mau sampai kapan akan menjalani kegiatan sosialisasi kesehatan reproduksi, Reni menjawab, “Sampai kapan saja. Selagi saya masih dibutuhkan, saya selalu siap menjadi partner yang baik.”

Reni berharap, ia selalu bisa menambah ilmunya dan senantiasa diberi kesehatan agar dapat bekerja sambil terus mensosialisasikan kesehatan reproduksi di desanya. (ab)