Kita baru saja melangkah masuk ke tahun baru, 2017. Nah, mumpung masih awal tahun, yuk kita rancang beberapa langkah bijak untuk mengisi tahun ini dengan lebih baik. Ini juga saat tepat untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan, apa yang telah  terjadi, kegagalan dan keberhasilan apa yang dilalui, dan apakah mimpi-mimpi sudah terwujud.

Sepanjang tahun 2016 lalu, apakah perempuan Indonesia bisa dikatakan bebas dari kekerasan dalam bentuk apa pun, apakah kosakata “mandiri” mulai melekat di jiwa dan raganya?

Rencana-rencana, cita-cita, bahkan rancangan regulasi Pemerintah biasanya disusun di akhir tahun atau awal tahun ini agar masa depan menjadi lebih baik dan gemilang. Pernahkah terbersit di benakmu apa yang dilakukan para perempuan dan keluarganya di pedesaan, daerah, dan pelosok yang di bawah garis standar ekonomi bahkan jaringan internet masih sulit ditemukan dan pembangunan lainnya belum terlaksana?

Segala program Pemerintah, LSM, intansi, kelompok, dan banyak lagi sudah mengembangkan dan menyebarkan visi dan misi sekaligus agendanya untuk negeri ini. Keterlambatan pembangunan dan ketidakmerataan semestinya menjadi poin-poin penting untuk langkah selanjutnya.

Namun jauh daripada itu, apa kabarnya diri sendiri? Tidak perlu jauh memikirkan daerah pelosok, politik, Pemerintah, sosial, lingkungan alam, dan lainnya. Kemungkinan sia-sia bila wanita Indonesia tidak memulai memikirkan diri sendiri terlebih dahulu.

Terkadang egois itu perlu, tanpa memandang wanita atau pria, semua orang sibuk atau tidak sibuk, tua atau muda, sangat sah kembali kepada diri sendiri, sebelum tahun 2017 menghajar dengan berbagai peristiwa dan cobaan. Persiapan diri melalui kesadaran, intropeksi, bekal pengetahuan, pengembangan diri, dan pengalaman sebelumnya, bakal  lebih indah dan mapan sebelum berpikir ke luar dari ranah pribadi.

Namun, perempuan yang telah berkeluarga kadang tidak mudah egois atau memiliki “me time” cukup banyak. Jika tidak dalam nuansa liburan seperti ini, mungkin tidak sedikit wanita yang melancong ke luar kota tanpa membawa anak dan suami. “me time” bisa saja dilakukan di dalam rumah. Seperti halnya para perempuan di luar sana yang kehidupannya jauh dari kemudahan berbagai aspek. Yang barangkali, mereka kerap hanya memikirkan bagaimana cara untuk makan dan bertahan serta menjalankan kesehariannya di masa berikutnya. Untuk membantu mereka, mengapa kita tidak membantu diri sendiri terlebih dahulu? Ini sekadar selayang  pandang.

Kita dapat mengatur waktu dengan bicara dengan pasangan, meminta luang untuk ‘hening’ dan bekerjasama mengurus anak. Ajak anak-anak meluangkan waktu bersama sebelum “me time” dan melakukan aktivitas bermanfaat bersama mereka. Aktivitas bersama suami dan anak-anak bisa hanya dengan mereka atau juga melibatkan orang lain maupun alam. Bisa juga memanfaatkan malam hari sebagai waktu yang tenang untuk menyendiri. Pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bisa diselipkan dalam aktivtas sehari-hari sebagai Ibu rumah tangga. Mempercantik diri pun tidak salah asal tak lupa menjaga kecantikan apa yang ada di luar sana.

Jika  memang Anda telah mapan secara batin maupun materi, bisa melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia.  Atau hanya di kota tinggal, berjalan-jalan bersama keluarga. Berkunjunglah ke perpustakaan, museum, nonton pertunjukan situs-situ sejarah, galeri seni, atau makan bersama sambil berkenalan dengan pemilik restoran.  Bercakap-cakap dengan pemilik restoran (restoran kecil maupun besar) dapat mengenalkan bahkan menumbuhkan kepimpinan, kemandirian, dan kewirausahaan kepada anak juga pada diri kita sendiri.

Jalan-jalan ke tempat wisata ke luar kota atau luar negeri pun, sekeluarga bisa berkenalan dengan budaya baru, penduduk, mata pencaharian mereka, gaya hidup, filsafah, warisan musik tradisional sambil belajar memainkannya, malah dapat menciptakan lagu dengan musik tradisional (bila salah satu keluarga punya bakat dan minat dalam musik), tempat wisata seraya belajar sejarahnya, budaya lokal, kuliner dengan memelajari kekerabatanya dengan kuliner daerah lain atau hanya mengetahui resep dan cara pembuatan tradisional.

Berkomunikasi dengan penduduk lokal banyak sekali manfaatnya. Kita bisa mengetahui permasalahan, hambatan, kelebihan, dan kekurangan suatu daerah, juga perekonomian serta kehidupan mereka. Sekali-kali berbincanglah dengan penduduk pelosok dan tatap mata mereka, adakah di matanya menyembulkan harapan dan mimpi? Apa yang terbaca dari mata dan tubuh mereka? Sekali lagi ini hanya selayang pemandangan.

Mengenal manusia tidak jauh berbeda dengan mengenal tempat wisata yang punya pemandangan indah. Sebab, Tuhan menciptakan bumi untuk tempat hidup manusia, tumbuhan, hewan, dan alam semesta. Satu saja di antara itu tidak bersinergi, maka jangan heran hukum alam selalu saja terjadi di muka bumi ini, misalnya saja pemanasan global. Makhluk ciptaan dilahirkan untuk bekerjasama dengan makhluk lainnya.

Pergi ke pustakaan maupun ke toko buku,  bisa meningkatkan dan menumbuhkan kecintaan anak-anak (diri pribadi juga) terhadap buku. Apalagi membaca buku sastra, sisi kemanusiaan yang penting dalam segala aspek hidup ini, bisa menjadi pedoman/pegangan untuk mencintai sesama dan memanusiakan manusia.

Kegiatan apa pun yang melibatkan/berkenalan orang lain  dan alam sekitar sangat bagus untuk anak-anak bahkan pasangan suami istri, agar mencintai sesama dan mengambil setiap inti sari dari mereka untuk mendapatkan ilmu dalam meningkatkan kehidupan yang lebih baik bahkan dalam hal pekerjaan.

Tidak heran jika banyak motivator menyarankan untuk mengenali dan membantu diri sendiri terlebih dulu, sebelum mengenal dan membantu orang lain dan juga alam sekitar. Karena di dunia seberang sana, banyak wanita dan keluarganya yang membutuhkan tangan-tangan kita yang terbungkus dengan pikiran dan hati yang murni positif,  dan sehat. Merangkai pertiwa dan “kecantikan”  diri pribadi terlebih dahulu untuk keluarga, orang lain dan alam semesta, tidak ada salahnya.

“Setiap tahun adalah pelajaran, begitu pula setiap detik dan manusianya.”(sn)