Oleh Tri Fatono

roadshow1

(Gambar 1: Berlangsungnya Acara)

Setelah sukses menggelar acara Roadshow sosialisasi di Makassar. Senin, 25 Juli 2016 bertempat di Hotel Mercure – Surabaya. Bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, IWITA (Indonesian Women IT Awareness) kembali menggelar roadshow sosialisasi SEREMPAK (Seputar Perempuan dan Anak) sebagai upaya untuk menyetarakan kesetaraan Gender melalui Teknologi Informasi dengan tema: “Menjaring UKM dengan SEREMPAK”.

Acara seru ini bertujuan agar kesetaraan Gender bisa dirasakan oleh setiap masyarakat terutama dalam dunia usaha. Tamu undangan berasal dari beberapa lembaga di Propinsi Jawa Timur dan Blogger. Acara terlihat seperti dikhususkan untuk para perempuan dan anak. Tapi tidak sedikit peserta putra yang hadir ikut memeriahkan acara.

Penampilan Seni tari mengawali acara, menampilkan tari tradisional Remo. Penampilan itu menunjukkan bagaimana peran perempuan tidak hanya dalam dunia bisnis dan ekonomi, namun kesetaraan juga mulai bisa dirasakan di dunia seni.

Ibu Martha Simanjuntak selaku Founder IWITA (Indonesian Women IT Awareness) membuka acara sosialisasi tersebut dengan beberapa motivasi dan semangat untuk tamu undangan. Terpesona, itu yang nampak dari beberapa tamu undangan setelah Hidayatul Hikmah sebagai MC memanggil ketiga narasumber yang masing-masing memiliki pengetahuan yang spesial terkait UKM dan  Perempuan. Ketiga narasumber itu ialah Ibu Ratna Susianawati (Asisten Deputi Kesetaraan Gender Indonesia, Ibu Sri Rahayu (Owner PT. Panca Arnys), dan Ina Armurwarni (Head of Marketing Bina Nusantara-Jakarta).

roadshow2

(Gambar 2: Dari kiri, Hidayatul Hikmah (MC), Ibu Ratna Susianawati, Ibu Sri Rahayu, dan Ibu Ina Armurwarni)

Ibu Ratna Susianawati memaparkan bagaimana peran perempuan saat ini belum begitu maksimal dalam lingkungan masyarakat. Beliau berharap agar kesetaraan ini tidak menimbulkan adanya kesalah pahaman pada kehidupan. Sering terjadi, mentang – mentang kesetaraan, tak jarang para perempuan diperlakukan sama dengan peran lelaki. Kesetaran dalam hal ini lebih ke kesetaraan fungsi dan kualitas perempuan. Bukan kesetaraan dalam artian lain. Peran perempuan saat ini terlihat jelas dalam bidang Teknologi Informasi, dimana jumlah perempuan yang begitu sedikit tapi mereka merupakan pengguna terbesar dalam Teknologi Informasi. Sangat disayangkan, dengan jumlah pemakai Teknologi Informasi terbesar ini tidak lantas menunjukkan apakah positif atau negatif yang mereka lakukan dengan Teknolgi Informasi.

Seperti fakta yang beliau ketahui, bahwa Jawa Timur adalah daerah dengan UKM tertinggi di Indonesia, bahkan lebih dari 50% pelaku UKM adalah perempuan. Memprihatinkan ketika mengetahui bahwa rata-rata pelaku UKM yang didominasi perempuan belum menunjukkan kualitas yang tinggi, dilihat dari kemasan UKM ternyata kemasan yang mereka buat untuk memperindah produk justru sangat tertinggal jauh dengan kemasan UKM yang ada di luar negeri.

Ini baru kemasan saja, bagaimana dengan kualitas produknya?” Kata Ratna Susianawati ,

Beliau berharap dengan pengguna terbesar Teknolgi Informasi bisa membuat kemajuan UKM terutama dalam teknologi Informasi.

Berlanjut dengan narasumber kedua, tentang bagaimana membangun UKM yang bisa bersaing, Ibu Sri Rahayu. Perempuan yang biasa dipanggil dengan nama Ayu sudah hampir 15 tahun menjadi pelaku UKM. Dimana sekarang beliau adalah Owner PT. Panca Arnys. Ketika membangun dan merintis usahanya, beliau mengatakan:

Sepuluh tahun silam sangat gaptek (Gagap Teknologi”). Beliau selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya, maka beliau pun ikut dalam komunitas warga Batak. Perjalanan awal, total beliau melakukan usahanya 100% manual dengan SDM yang ada dan tanpa teknologi.

Dengan karakter yang suka dengan kecepatan seperti VR|46 (Valentino Rossi), beliau tidak sabar dengan teknik manual ini, beliau ingin segera cepat mendapatkan informasi tentang pasar yang sedang berlangsung. Selaku pengusaha kecil yang omsetnya sudah berpuluh-puluh kontainer dalam mendistribusikan produk ke klien nya. Teknologi Informasi pada awalnya beliau lakukan dan gunakan hanya sebagai pendukung kegiatan internal perusahaan sebagai pengembangan SDM (para karyawan), pembuatan SOP. Sempat kebingungan juga saat ada order yang harus dilakukan secara online dimana saat itu sangat sedikit pengetahuan tentang iptek. Semakin lama beliau meng upgrade ilmunya dan tidak lupa juga IPTEK digunakan sebagai media komunikasi tercepat dengan cabang dan kolega.

Hambatan tak berhenti disitu, ketika sudah menguasai IPTEK dengan maksimal, ada saja klien yang tidak paham dengan IPTEK menyulitkan saat melakukan kerjasama. Tapi bukan ibu Ayu namanya jika hal seperti itu mebuat menyerah, Ibu Ayu mengatasi masalah tersebut secara cepat dengan melakukan training IPTEK secara bertahap kepada kolega.

Berbeda dengan dua narsumber diatas, kali ini ibu Ina Armurwani sharing kepada para tamu undangan tentang bagaimana membangun branding yang berkelanjutan. Mantan manager yang sudah berpuluh-puluh tahun menangani dunia marketing tentu sangat mahir dalam dunia branding.

Ibu Ina mengatakan, “dalam melakukan branding harus memberikan branding atau nama yang mudah diingat, sehingga klien akan gampang tau akan branding kita. Jangan juga mengganti-ganti nama branding Anda. Dimana itu akan sangat mebingungkan para klien. Tentunya nama yang mudah diingat tidak lah cukup, kita harus tahu siapa target pasar kita, jangan asal main branding saja”.

roadshow serempak

(Gambar 3: Kiri Atas ( Ibu Sri Rahayu), Kanan Atas (Ibu Ina Armurwarni), Bawah (All)

Dalam branding diharapkan agar kita selalu memiliki identitas, entah dalam tulisan, warna atau produk. Yang penting harus memiliki ciri khusus untuk menarik para klien yang ada dalam pasar.

Ibu Martha Simanjuntak menutup acara dengan beberapa kata penyemangat bagi tamu undangan agar kesetaraan gender dalam dunia teknologi dan kehidupan tidak lagi terjadi kesalah pahaman dan ketidak adilan.

Semangat maju bersama SEREMPAK.

 

 

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak