Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “literasi”?

“Tentang bisa membaca” mungkin jawaban itu yang terlintas.

Bagaimana jika mendengar tentang “literasi digital”?

“Membaca buku bentuknya PDF” atau “membaca di gawai”

Pemahaman tentang literasi saat ini tidak lagi terbatas pada melek huruf  atau bisa membaca. Di era yang sudah semakin maju tekhnologinya saat ini, para generasi milenial dimudahkan dengan berbagai macam alat canggih untuk mempermudah hidup.

Sebagai salah satu Kabupaten yang berada di daerah terdepan, Natuna menjadi Kabupaten ketiga yang dikunjungi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan IWITA (Indonesia Women IT Awareness).

IWITA merupakan organisasi perempuan Indonesia tanggap tekhnologi yang merupakan mitra dari Kementerian Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak untuk pelaksanaan kegiatan Literasi Digital.  Sinergi antara IWITA dan KemenPPPA menghasilkan sebuah wadah diskusi menarik yang bertajuk “Song Kite Bengun Semangat Bece Berbasis Literasi Digital di Pulau Terdepan”. Acara ini diselengarakan pada Rabu, 5 September 2018 di Aula STAI Natuna.

Peserta yang hadir begitu antusias selama sesi berlangsung. Narasumber yang berasal dari Jakarta dan Natuna berkolaborasi menghadirkan diskusi yang menarik. Adapun narasumbernya adalah Bapak Muttaqien, seorang pemuda asli Natuna, merupakan salah satu penggiat rumah baca yang didirikan sejak ia menyelesaikan studinya. Ada juga pembicara dari Jakarta yaitu Bapak Indriyatno Banyumurti dari Siberkreasi dan juga Ibu Martha yang merupakan pendiri dari IWITA.

Banyak hal yang didapat dari diskusi tersebut. Terutama mengenai perjalanan literasi itu sendiri. Dahulu untuk berkomunikasi orang-orang menggunakan media surat dan harus menunggu hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan balasan dari surat yang dikirimkannya, seperti yang diceritakan oleh Bapak Muttaqien saat beliau masih memiliki sahabat pena. Tetapi saat ini, untuk berkomunikasi begitu mudah. Berbagai aplikasi sosial media hanya membutuhkan hitungan detik untuk menyelesaikan itu semua.

Menggunakan media sosial ternyata juga tidak selalu positif. Ada banyak paparan yang disampaikan Bapak Indri-sapaan untuk Bapak Indriyatno- mengenai hal tersebut. Menjauhkan yang dekat karena keasyikan menggunakan sosial media, kecelakaan karena menggunakan gawai saat berjalan kaki atau menyetir kendaraan, terkena berita hoaks sehingga menyebarkan berita palsu menjadi beberapa hal negatif saat menggunakan literasi berbasis digital ini.

Ponsel pintar tentu harus diimbangi pula dengan pemakai yang pintar. Harus bisa menempatkan waktu kapan harus menggunakan gawai dan juga menyaring berita menjadi salah satu kemampuan yang dimiliki oleh para pemilik gawai. Bapak Indri juga menjelaskan tentang skema ruang gema dan ruang gelembung saat diskusi. Itu seperti saat menggunakan sosial media berbentuk Facebook, Twitter atau Instagram dimana aplikasi menyimpan kesukaan dari pengguna itu sendiri dan ‘hanya’ menampilkan apa yang disuka oleh pengguna. Sebagai contoh adalah tim Pro Jokowi dan tim Pro Prabowo. Sebagai tim Jokowi misalnya, tentu saja akan menyukai berita bagus tentang Jokowi dan berita buruk tentang Prabowo. Pada setiap sosial media ada algoritma yang mengatur tampilan sesuai keinginan pengguna. Sehingga apa yang akan didapatkan dari penggunaan sosial media hanya akan menampilkan berita atau tautan sesuai yang diinginkan. Hal ini lah yang menjadikan penerimaan informasi menjadi sepotong-sepotong atau tidak subjektif. Masing-masing pendukung hanya mendapat informasi baik tentang tokoh yang diidolakannya sehingga semakin merasa benar tentang pilihannya tersebut. Hal ini lah yang sering kali menimbulkan gesekan. Dan siapa yang paling diuntungkan mengenai hal ini? Tentu saja para pembuat berita yang menggunakan judul sensasional. Karena setiap kali tautan berita yang mereka buat di klik oleh pengguna, mereka mendapatkan uang. Hal ini disebut dengan click bait.

Pembicara terakhir ialah Ibu Martha, pendiri dari IWITA. Saat ini Ibu Martha berprofesi sebagai konsultan IT dan Bisnis. Dengan banyaknya pengalaman, Ibu Martha memaparkan bahwa teknologi haruslah bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang. Terutama perempuan khususnya Ibu. Ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama harus bisa tidak hanya menggunakan teknologi tetapi juga harus pintar dan bijak. Salah satu tujuan dari diskusi salah satunya adalah agar perempuan di Natuna mampu mengembangkan dirinya melalui pemanfaatan teknologi. Dalam berdagang melalui media sosial salah satu contohnya. Perempuan juga diharapkan mampu berperan dalam perekonomian terutama keluarga. Ibu Martha Simanjuntak juga menyampaikan bahwa di era media sosial ini, pengguna media sosial yang digunakan segala umur harus bisa membangun digital personal branding-nya dengan baik dan benar. Etika di dunia maya sama dengan dunia nyata. Personal Branding bukan hanya untuk artis atau public figure. Setiap orang harus membangun personal brandingnya dan saat ini media sosial sebagai medianya. SEREMPAK.id yang merupakan portal yang dibangun oleh KemenPPPA bersama dengan IWITA dapat dijadikan media yang tepat untuk membangun digital personal branding.

Sesi diskusi ditutup saat pukul 14.00. Para peserta pulang dengan tidak hanya berbekal ilmu. Ada beberapa peserta yang juga mendapat hadiah menarik karena berpartisipasi dalam perlombaan. Diharapkan setelah selesainya diskusi, pengimplementasian apa yang telah didapatkan berdampak positif secara langsung kepada para peserta. Peserta juga dapat berkontribusi di SEREMPAK.id dalam bentuk tulisan, ide, video atau konten-konten kreatifnya lainnya sebagai sarana berbagi informasi dan inspirasi.(dmr)