Oleh Nefertite Fatriyanti

Masih banyak di antara kita yang menganggap profesi ibu rumah tangga sebagai pekerjaan remeh. Nah, coba baca artikel ini agar Anda bisa bangga berkata, “Saya ibu rumah tangga.” 

Tidak semua orang bisa hidup serasi dan selaras dengan lingkungan  masyarakat. Ada di antara kita yang memiliki nilai atau prinsip hidup yang sesuai dengan tuntutan nilai sosial. 

Sebaliknya ada juga manusia yang memiliki nilai hidup atau prinsip hidup tidak selaras bahkan mungkin bertentangan dengan nilai sosial pada umumnya.

Ketika nilai yang dianut seseorang berjalan selaras dengan nilai di masyarakat, tidak akan menimbulkan masalah. Akan tetapi jika nilai yang dianut individu berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai umum dalam masyarakat tentu akibatnya berbeda.

Akan muncul distorsi sosial, perbenturan nilai di masyarakat, yang bisa menimbulkan berbagai goncangan di masyarakat.

Individu yang bisa berjalan bersama masyarakat atas dasar kesamaan nilai, akan dikategorikan sebagai individu yang normal. Individu yang bisa berjalan beriringan dengan nilai masyarakat akan beperan memberikan energi positif bagi masyarakat. Individu yang positif akan memberikan sumbangsih membangun peradaban di masyarakat.

Sebaliknya individu yang banyak mengalami perbenturan bahkan pertentangan nilai dengan masyarakat akan dikategorikan sebagai individu yang gagal atau tidak normal.

Kenapa bisa begitu? Karena setiap individu memang membawa bekal nilai yang  berbeda-beda pada diri mereka masing-masing. Lalu, dari manakah setiap individu itu membawa bekal pemahaman tentang nilai kehidupan? Jawabnya mudah, tentu saja dari keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama yang dikenal oleh seorang anak  saat ia hadir ke dunia. Pada keluarga, seorang anak akan meletakkan seluruh harapannya, menaruh seluruh kepercayaan yang dimilikinya.

Siapa keluarga? Keluarga adalah ibu, ayah, kakak, adik, mungkin saja kakek dan nenek. Namun jika keluarga dalam konteks pengasuhan tentunya ayah dan ibu. Di sini, lebih utama lagi adalah sosok ibu.

Kenapa ibu berperan penting dalam pengasuhan anak? Karena di sepanjang hidup seseorang, pada umumnya dia akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sosok seorang ibu. Sehingga memang pola  asuh ibulah yang akan mewarnai kepribadian anak.

Pola Asuh Ibu di Usia Emas

Usia emas seorang anak adalah pada 0 – 5 tahun. Pada usia ini perkembangan otak seorang anak berjalan sangat pesat, dimana terbentuknya jaringan koneksi otak sehingga informasi apapun akan terserap secara maksimal.

Bahkan respon terhadap stimulus memiliki kecepatan tinggi yaitu mencapai dua kali lipat kecepatan orang dewasa. Itulah sebabnya di masa balita ini, merupakan masa emas, masa terpenting sepanjang hidup seorang anak manusia.

Maka pada usia inilah saat yang tepat bagi ibu untuk menumbuhkembangkan perilaku sosial pada diri seorang anak. Kenapa perilaku sosial penting ditanamkan di usia dini? Karena menumbuhkembangkan perilaku sosial sejak dini, akan tertanam secara permanen pada diri anak, sehingga akan menetap menjadi konsep diri dalam kepribadian anak.

Maka persoalannya adalah bagaimana ibu menanamkan konsep diri positif pada diri seorang anak? 

Ibu sebagai orangtua adalah orang pertama yang dipercaya seorang anak tentang berbagai hal yang dilakukan, dikatakan dan apa yang dicontohkan. 

Sehingga apapun yang disampaikan oleh ibu berkaitan dengan nilai benar atau salah, baik atau buruk akan dipercaya oleh anak.

Ibu memiliki posisi strategis untuk mengasuh anak sehingga anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang bisa diterima dengan baik oleh lingkungannya. 

Anak yang bisa diterima dengan baik oleh lingkungannya adalah dia yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yaitu masyarakat, dimana dia berada.

Berbagai pola asuh positif yang bisa membantu tumbuhkembangnya karakter positif pada diri anak di antaranya adalah

1. Memelihara fisik anak dengan membangun kesehatanya melalui pemenuhan kebutuhan pangan yang proporsional. Selain itu juga memberikan fasilitas lain sebagai pendukung agar anak sehat secara fisik. Kesehatan fisik adalah basis bagi perkembanagn anak

2. Memelihara kesehatan mental anak, melalui berbagai motivasi dan bimbingan. Berikan ruang yang leluasa dalam keluarga agar anak bisa berkembang maksimal.

3. Menciptakan suasana yang aman dan nyaman di dalam internal keluarga. Keamanan dan kenyamanan bersama keluarga, akan memebri kontribusi positid bagi pertumbuhan karakter anak.

4. Dengan langkah-langkah di atas, maka secara konstan kepribadian anak akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah struktur kepribadian yang positif.

Pada titik inilah, seorang perempuan sebagai ibu adalah perempuan yang pandai, cerdas, sehingga memahami bagaimana mengkondisikan lingkungannya yatu keluarga.

Perempuan sebagai ibu berkompeten untuk meneguhkan dirinya melalui kemauan belajar menambah ilmu, menambah wawasan dan pengalaman terus menerus, agar mampu mengimbangi irama jaman yang pertumbuhannya semakin pesat.

Dengan begitu, maka perempuan sebagai ibu akan mampu meletakkan dasar-dasar kepribadian positif pada anak-anaknya. Anak-anaknya akan tumbuh kembang menjadi pribadi yang positif pula.

Inilah kontribusi sosial perempuan, menyiapkan generasi unggul yang akan memberi manfaat di kehidupan sosial. Kontribusi yang tampaknya kecil dan sederhana karena hanya mengasuh anak, tapi memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat.

Jadi, mulai sekarang berbanggalah akan peranmu sebagai seorang Ibu! 

asuh