Selamat Jalan Anakku Sayang…

0
44

Hari itu seperti biasa, selesai ibadah gadis kecilku bermain bersama kawan-kawannya di pelataran parkir gereja, sembari menunggu kami para orang tua yang masih bersilahturahmi satu sama lain.

mereka berlarian,

mereka tertawa,

namun tiba-tiba ada yang menangis karena berebut mainan,

lalu mereka tertawa lagi,

mereka bergandengan tangan,

terkadang mereka juga bernyanyi,

mereka menyanyikan kembali lagu yang diajarkan kakak pengasuh di ruang kelas sekolah Minggu,

rangkulan tangan mereka, tulus, murni, tanpa modus,

tawa dan tangis mereka tanpa beban, karena dunia kanak-kanak adalah dunia bermain.

Namanya juga anak-anak, bahkan ketika ibadah masih berlangsung pun mereka ingin bermain. Kami para orang tua, terkadang harus membujuk, misalnya dengan berkata seperti ini,

“jangan main di luar nak, nanti Tuhan marah”

Kadang bujukan kami berhasil dan si kecil duduk manis di dalam gereja hingga ibadah berakhir. Namun terkadang kami “kalah”. Kami terpaksa harus mengikuti si kecil bermain di luar gedung gereja.

Andai ibu tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir ibu melihat keceriaanmu. Mungkin ibu takkan melepasmu bermain sendirian nak.

Andai ibu tahu bahwa tawa dan keceriaanmu bersama sahabat-sahabat kecilmu akan berakhir duka. Mungkin ibu takkan pernah melepaskanmu dari pelukan dan gendongan ibu.

Andai ibu tahu bahwa begitu singkat waktu yang Tuhan berikan untukmu di dunia ini. Mungkin ibu takkan melewatkan semenit pun waktu untuk bersamamu.

Andai ibu tahu bahwa tawa dan keceriaan kalian akan berubah menjadi jerit dan tangis kesakitan kalian. Mungkin kami para ibu akan terus “memaksa” menggendong kalian di dalam pelukan kami.

Andai ibu tahu segalanya, mungkin hari minggu itu ibu takkan mengajakmu sembayang ke gereja.

Andai ibu tahu segalanya, mungkin ibu akan minta sama Tuhan untuk memberikanmu banyak saudara yang lahir dari rahim ibu.

Sehingga ibu tidak merasa sangat kehilangan, karena kaulah satu-satunya anak ibu dan ayah.

Nak, ibumu boleh berandai-andai. Tetapi ibu percaya kepergiaanmu adalah takdir Tuhan. Tuhan berkehendak kau pergi dengan cara seperti itu nak.

Nak, ibumu boleh berandai-andai. Tetapi ibu percaya kepergiaanmu adalah takdir Tuhan. Kau pergi di usia muda, dengan cara yang amat tragis. Ibu sebagai manusia biasa sulit menerima kenyataan ini nak.

Nak, sungguh sulit menerima kenyataan ini. Kau putriku, putri satu-satunya ibu dan ayahmu. Hidupmu direnggut dengan paksa, bahkan kau pun belum mengerti arti sebuah kehidupan.

Kau dan kawan-kawanmu layaknya kertas putih yang belum ternoda. Suci, murni dan tanpa dosa. Kau dan kawan-kawanmu tidak mengerti mengapa tawa kalian berubah jadi tangisan yang menyayat hati kami para orang tua.

Kulit kalian berdarah dan terbakar api. Rasa panas, sakit dan terbakar di kulit kalian, mengalahkan rasa panas, sakit dan terbakar ketika tangan mungil kalian terkena lelehan lilin natal. Andai Tuhan bisa memindahkan rasa sakit di tubuh kecilmu ke tubuh ibu, ibu rela nak.

Ibu berusaha mengikhlaskan kepergiaanmu nak, ibu tidak tega melihat kau menangis kesakitan. Ibu berusaha mengampuni orang itu nak, karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat. Biarlah semangat cinta kasih menjadi kekuatan bagi ibu dan ayahmu.

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, Matius 5:44”

kasih itu sabar,

kasih itu murah hati,

kasih itu lemah lembut,

kasih itu memafkan,

kasih itu mengampuni,

Beristirahatlah dalam damai Intan Olivia Marbun anakku,

Gadis kecil berusia 2,5 tahun yang telah pergi dalam kegembiraan masa kanak-kanaknya.

Apa kabar anakku sayang?

Ibu percaya kau sudah bahagia di sana,

Tidak ada lagi rasa sakit yang kau rasakan di tubuh kecilmu,

Apa kau bahagia menjadi salah satu malaikat kecilNya?

Aku ibumu, ibu yang tidak pernah melahirkanmu,

Selamat jalan anakku sayang,

CATATAN :

Tidak ada satu agama pun di muka bumi yang mengajarkan kebencian kepada sesama manusia, semua agama mengajarkan cinta kasih. Hanya OKNUM tertentu yang terkadang melenceng dari ajaran agamanya. Tolong jaga keberagaman di muka bumi pertiwi atas nama toleransi. Bukankah kita berbeda-beda tapi tetap satu? Tolong jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita yang ada karena kasus-kasus yang ada hanya OKNUMnya yang bersalah bukan AGAMAnya.

#Save Keberagaman

#Save Bhineka Tunggal Ika

#Hidup Pluralisme

#Bukankah kita sama-sama manusia

#AKU CINTA DAMAI

Selamat Hari Toleransi Internasional, 16 November 2016

selamat-jalan

Gambar: Toni Malakian

Dramaga, 16 November 2016

(Mariana Lusia Resubun)