Apakah masih ada yang menganggap tabu jika sekelompok orang membahas tentang selfharm atau mungkin kita menganggap hal itu hanya upaya mencari perhatian?

Selfharm adalah tindakan melukai diri sendiri sebagai bentuk pelampiasan emosi yang tidak terkontrol. Tindakan semacam ini dianggap bagi kebanyakan orang adalah hal yang mengerikan dan sebagian orang lainnya justru menikmati tindakan tersebut. Salah satu teman saya yang seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tato, mengaku bahwa ia tidak menikmati tato sebagai sebuah seni atau keindahan, namun lebih pada menikmati rasa sakitnya ketika proses ditato dan itu membuatnya menjadi ketagihan. Lalu apakah perasaan tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah ketidakwajaran? Tentu demikian pandangan kita. Namun kali ini saya akan membahas dari sudut pandang berbeda.

Selain beberapa kasus seperti masalah keluarga atau putus cinta, kasus terbanyak yang melatarbelakangi selfharm adalah bullying. Rasa tidak percaya diri akan memicu seseorang untuk melakukan tindakan ini karena mereka menganggap selfharm sebagai pertahanan diri dan mengatasi rasa sakit secara emosional. Tindakan yang dilakukan bisa saja mulai dari menyayat tangan, membenturkan kepala pada benda-benda keras, atau overdosis zat tertentu.

Beberapa orang juga melakukan selfharm yang sifatnya lebih samar misalnya tidak peduli pada kesehatan fisik dan mentalnya atau sengaja menempatkan dirinya pada posisi yang membahayakan. Jika dibiarkan, hal ini bisa mengarah pada keinginan mengakhiri diri sendiri.

Secara langsung, selfharm nampak hanya merugikan diri sendiri dan meninggalkan bekas pada fisik juga mental mereka secara personal. Namun pada kenyataannya hal ini juga berdampak pada orang sekitar. Kekhawatiran akan selalu memenuhi pikiran mereka. Bagi pelaku selfharm sendiri akan dijauhi oleh teman-teman yang tak pernah peduli atau menganggap selfharm hanya sebuah pertunjukan drama saja.

Selfharm sendiri dilakukan karena tidak mampu mengontrol emosi ketika menghadapi sebuah tekanan baik dari luar maupun dalam diri mereka. Kecenderungan pola asuh masa kecil yang menerima protect sangat hebat dari orang tua atau keluarga juga menjadi salah satu penyebabnya.

Kita bisa menengok ke belakang dan sekeliling baik di dunia pendidikan maupun keluarga yang memberi batasan-batasan pada seseorang dalam mengolah emosi. Tak jarang kita dapati seorang anak tidak bisa mengekspresikan emosi secara terang-terangan terlebih ekspresi marah karena hal itu dianggap negatif. Kebiasaan tersebut akan terbawa sampai dewasa dan mereka akan mencari sebuah cara untuk mempertahankan diri dari rasa sakit dan tidak nyaman.

Ada beberapa tipe pelaku selfharm yang akan kita temui. Tipe pertama adalah orang mampu mengatasi sendiri tanpa bantuan dari eksternal dan tipe kedua adalah mereka yang membutuhkan orang-orang di sekitar untuk mengatasinya.

Mungkin kita pernah mendengar seorang teman berkeluh kesah dan menyampaikan ingin menyakiti diri sendiri atau bahkan mereka menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri hidup. Sekilas kita akan merasa itu hal yang aneh dan menganggap tindakan mereka hanya upaya mencari perhatian. Bisa jadi kita akan berpikir, “Kalau memang ingin menyakiti diri sendiri kenapa harus disampaikan ke orang lain? Kenapa tidak langsung eksekusi saja?”
Pertanyaan-pertanyaan demikian tidak salah, namun jika kita menemui tipe kedua yang melakukan selfharm, maka yang sebenarnya adalah mereka tidak sedang mencari perhatian. Ada perasaan takut dalam diri mereka. Ketakutan akan terulang tindakan selfharm dan tidak ada yang membantu mengontrol tindakannya. Mereka berusaha menjadikan orang di sekitarnya sebagai alarm untuk mengatasi jika sewaktu-waktu pikiran itu muncul pada diri mereka.

Memang lebih tepatnya tindakan selfharm harus mendapatkan bantuan dari sisi psikologi, namun tidak ada salahnya kita sebagai orang di sekitar berlaku sebagai care giver untuk mereka. Karena ketika semua terlambat maka kita akan menyesal sepanjang hidup karena kehilangan seseorang yang mungkin saja berharga buat hidup kita. Dan saya rasa yang terpenitng adalah kita sadar bahwa selfharm adalah bentuk minta tolong karena mereka membutuhkan bantuan dan Bukan upaya untuk cari perhatian. (Sumi DS)