oleh: Sian Hwa (@juleshwa)

Jika Kartini masih hidup sekarang, tentu beliau akan berpikir bahwa baca-tulis saja tidak akan mampu membawa kaum perempuan keluar dari kegelapan. Jika Roadshow Serempak 2016 dengan tema Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pemberdayaan Perempuan tidak diselenggarakan, maka besar kemungkinan kaum perempuan di Indonesia kehilangan satu kesempatan berharga untuk menapak langkah lebih maju lagi.

Roadshow Serempak 2016 tersebut bukan sekadar seremoni belaka karena tahun sebelumnya juga diadakan, sebab misi pemberdayaan perempuan sekarang bukan juga hanya bertujuan membuat mereka mampu membaca dan menulis serta berpartisipasi ala kadarnya di masyarakat.

Dalam era dunia digital, dengan menjamurnya pengguna internet dan ponsel pintar, bahkan banyak alat komunikasi digital yang dipasarkan seperti konsol permainan, jam pintar, dan sebagainya bisa menambah dampak positif kehidupan pengguna kemajuan teknologi. Tapi, jangan lengah juga, karena dampak negatif juga mengiringi, seperti antara lain pornografi, social-bullying, penyalahgunaan informasi, konten illegal dan berita palsu.

Lewat Roadshow Serempak yang digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta pada tanggal 1 Agustus 2016, para hadirin sekali lagi diberikan penerangan bahwa saat ini mayoritas perempuan Indonesia di seluruh wilayah nusantara sudah banyak melek teknologi informasi dan komunikasi (e-literate). Hal ini bisa dilihat dari statistik pengguna teknologi informasi dan komunikasi (internet, ponsel pintar dll) termasuk sosial media dan pengguna layanan e-commerce yang menunjukkan lebih dari 50 % dari total 88,1 juta orang pengguna di Indonesia adalah perempuan.

Uraian dari Agustina Erni (Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI) dan Mariam F. Barata (Plt. Dirjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI), para peserta seminar dibekali tentang pentingnya pedoman UU ITE supaya perempuan bisa lebih tepat langkah serta maksimal dalam mendayagunakan TIK bagi kehidupannya dan kehidupan orang lain agar tidak tersandung kasus seperti kasus Prita misalnya. Selain itu, perlunya diperbanyak akses untuk kaum perempuan yang telah melek TIK dapat berpartisipasi dalam kesejahteraan sosial, peningkatan ekonomi, kemajuan pendidikan dan akhirnya sama-sama mewujudkan masyarakat Smart-Indonesia (Indonesia Digital).

Selain dua narasumber tersebut, tak ketinggalan Nuniek Tirta Ardiato (blogger, community builder, digital networker, counselor) dan Nova Eliza (public figur, founder Yayasan Suara Hati dan socialpreneur) membagikan pengalamannya bergelut dalam dunia digital, menggunakan sarana sosial media dan kaitannya dengan isu-isu yang melibatkan perempuan seperti isu kekerasan ibu dan anak, trafficking serta bidang e-commerce. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini seharusnya berpotensi lebih bagi kesejahteraan hidup perempuan (dan anak) dan skala besarnya adalah kesejahteraan sosial, jadi tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang atau bersantai saja.

Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan dengan penggunaan TIK, antara lain meningkatkan pendapatan keluarga lewat bidang e-commerce seperti toko online, blogging, influencer, dan menjadikan TIK sebagai sarana mempromosikan berbagai sektor UKM dan menyuburkan bisnis start up. Ditambah lagi pentingnya perempuan yang telah melek TIK dapat menjadi kontributor kemajuan pendidikan lewat informasi yang edukatif dan memperbanyak komunitas digital kreatif di Indonesia.

Roadshow Serempak 2016 dipandu oleh Nurul Musyafirah (blogger) dan ditambah penjelasan Martha Simanjuntak (ketua Pokja SEREMPAK, founder IWITA-Indonesian Women IT Awareness) tentang apa itu SEREMPAK dan memperkenalkan para anggota pengurusnya. Ingin tahu lebih jauh, bisa tengok situs resmi www.serempak.id untuk menggali informasi lebih lanjut.

Ada pun misi Three Ends yang diemban oleh KPPPA di tahun 2016 ini, yaitu: End Violence Against Women and Children (akhiri kekerasan pada perempuan dan anak); End Human Trafficking (akhiri perdagangan manusia); End Barriers To Economic Justice (akhiri kesenjangan ekonomi), membutuhkan partisipasi seluruh kalangan—masyarakat awam, perempuan dan laki-laki, serta pemerintah—dalam mewujudkannya.

Contohnya: orangtua didorong membuka komunikasi sehat pada anak-anaknya, menjadi teladan positif dan menyeimbangkan penggunaan gadget. Sementara pemerintah didorong harus intensif mengontrol kebebasan penggunaan akses internet secara sehat, bahkan mengupayakan akses internet sehat di tempat umum seperti warnet, terutama batasan informasi atau tayangan yang mengandung kekerasan, provokasi SARA dan pornografi. Semua jajaran dan lapisan harus SEREMPAK dan tidak bisa sendiri-sendiri. Sebab, untuk keluar dari kegelapan, kita semua harus bergandeng tangan.

Jika, dulu Kartini bisa berkata, ‘habis gelap maka terbitlah terang’ dalam buku hariannya. Maka, para perempuan yang telah melek TIK dapat berkata bagi sesamanya: ‘dalam kegelapan selalu ada setitik cahaya’. Masing-masing perempuan adalah cahaya bagi kaumnya, bukan hanya Kartini atau Sophia Hage, atau para pembicara di atas saja, tapi semua perempuan. Cahaya perempuan untuk kehidupan dan dunia yang lebih baik.

Catatan:

  1. Sumber foto/ilustrasi statistik berasal dari hasil survei Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) UI bekerja sama dengan APJII, yang bisa diakses dalam situs PUSKAKOM UI.

  2. Ilustrasi kutipan Kartini diambil dari situs www.bintang.com

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak