Seperti yang kita ketahui, hingga tahun 2018 ini, Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin meningkat perkembangannya, termasuk konten startup. Berbagai aplikasi startup karya anak bangsa seperti layanan ojek online, sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kini yang terbaru, datang dari anak muda Kota Medan. Startup tersebut bernama aplikasi Kepul. Aplikasi ini adalah aplikasi jasa jual sampah daur ulang secara daring (online). Karya anak-anak muda Medan ini, patut mendapat apresiasi dan layak dibanggakan, karena proyek ini menjadi satu-satunya startup yang berasal dari Sumatera Utara, yang berhasil menjadi delegasi Indonesia pada kompetisi bertaraf Internasional yaitu Asia Pasific ICT Alliance Awards (APICTA Awards) 2018. Sungguh ini merupakan pencapaian yang membanggakan.

Tim Kepul sendiri dibentuk tahun 2017 lalu, berangkat dari kegelisahan founder Kepul yang bernama Abdul Latif Nasution dan Afrizal Yusuf Rangkuti. Keduanya merupakan sarjana Informasi Teknologi dari Universitas Sumatera Utara (USU). Abdul Latif mengatakan, ketika dirinya masih menjadi mahasiswa di USU, dia berkeinginan mengeksplorasi skill yang ada untuk membuat aplikasi yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, sehingga tercetuslah ketika itu ide untuk membuat aplikasi Kepul. Dia melihat Kepul sebagai solusi dari persoalan sampah yang tak teratasi. Banyaknya sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), hal itu juga disebabkan karena minimnya Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang ada di Medan.

Lebih lanjut dia mengatakan, bersama keempat teman lainnya, yaitu Amalia Rahmi Simanjuntak, Novira Naili Ulya Siregar, Dendy Herlambang dan Astria M Silaban, dia berpikir untuk membuat aplikasi yang mirip seperti aplikasi transportasi daring (online), tapi dimanfaatkan untuk jasa jual sampah daur ulang, yang nantinya dapat menjadi solusi terhadap masalah sampah, selain masyarakat dapat mengubah sampah menjadi rupiah.

3 Dari 6 Orang Tim Kepul

Aplikasi jasa pengumpulan sampah daur ulang ini dilakukan melalui pengepul-pengepul (tukang botot) yang ada di sekitar tempat tinggal masyarakat. Jadi pengguna aplikasi yang ingin mengumpulkan sampah daur ulang miliknya, dapat mencari pengepul terdekat dari rumahnya melalui aplikasi Kepul dengan memanfaatkan sistem navigasi GPS. Tentunya, sampah yang diterima merupakan sampah berupa kertas, plastik, logam dan barang yang dapat di daur ulang lainnya.

Selain itu, Kepul juga menyediakan pasar untuk produk dari daur ulang barang bekas (sampah) yang dikumpulkan para pengepul, tentunya dengan menjual produk UMKM dari olahan sampah daur ulang. Sehingga, aplikasi ini juga nantinya bisa dimanfaatkan untuk memasarkan produk UMKM hasil daur ulang sampah.

Untuk saat ini, aplikasi Kepul masih menggunakan sistem call center, karena aplikasi Kepul masih diulas dan diteliti lebih lanjut oleh Google. Menurut rencana, bulan depan akan dilaunching di Playstore. Namun, walaupun selama 5 bulan terakhir berjalan dengan sistem call center, saat ini sudah ada sebanyak 10 pengepul yang bergabung, di mana masing-masing pengepul berada 3 di kawasan Padang Bulan, 2 di Medan Johor, 2 di Setia Budi dan 3 di kawasan Sisingamangaraja, Kota Medan. Selain itu, jumlah transaksi juga sudah mencapai sebanyak 750 transaksi.

Untuk memulai menjalankan aplikasi ini, tentunya banyak tantangan yang dihadapi, terutama dari sisi pengepul. Syukurnya. mereka  menemukan salah seorang pengepul yang masih muda dan mengerti akan kemajuan teknologi. Dari pengepul inilah yang kemudian menyebar luas ke pengepul lainnya. Latif berharap pada saat aplikasi ini di launching di Playstore nanti, sudah ada sebanyak 1.000 pengepul.

Harapan lainnya, tentu saja, tim Kepul berkeinginan untuk bisa menang dalam kompetisi APICTA Awards yang akan dilaksanakan pada 9-13 Oktober 2018 mendatang. Saat ini, mereka mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dukungan dana untuk dapat berangkat mengikuti kompetisi tersebut. Bahkan mereka juga membuat gerakan 3.000 orang donatur yang berbaik hati dan bersedia menyumbangkan Rp10 ribu per orang, agar mereka dapat mengikuti kompetisi tersebut.

Kegiatan positif seperti ini, sudah sangat layak mendapat dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah, karena dapat membanggakan Medan dan Indonesia.(az)