Bermain adalah hak asasi setiap anak, bahkan tugas seorang anak adalah bermain. Dalam masa tumbuh kembang bermain menjadi sangat penting bagi seorang anak. Melalui kegiatan bermain orang tua dapat menstimulasi tumbuh kembang anak. Salah satu permainan yang telah dikenal orang tua sejak zaman kanak-kanaknya adalah permainan tradisional.

Sayangnya, kini anak lebih cenderung menyukai permainan modern berteknologi tinggi dengan menggunakan gawai, sehingga anak-anak Indonesi tidak lagi mengenal dan memainkan permainan-permainan tradisional.

Definisi Bermain

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi main adalah melakukan permainan untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat-alat tertentu atau tidak). Selain itu juga melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (dengan alat-alat tertentu atau tidak).

Menurut Bettelheim kegiatan bermain adalah kegiatan yang tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemainnya sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar, (Hurlock, 1978).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bermain mengutamakan kegiatan bersenang-senang. Jika kita bermain maka syarat utamanya adalah kesenangan. Terutama bagi anak-anak, karena saat bermain adalah saat si anak merasa bebas mengeskpresikan dirinya, sehingga bermain haruslah merupakan dorongan dari dalam diri anak sendiri bukan atas dasar paksaan pihak lain.

Permainan Tradisional

Kegiatan bermain yang diwariskan dari generasi sebelumnya atau leluhur kepada generasi muda melalui oral, suara, atau demonstrasi; yang mengandung nilai yang ada dalam suku atau budaya tertentu sebagai bagian dari kegiatan rekreasional (Civarello 2006; Addy Putra et. all, 2014; Mohd. Salleh, 2005 dalam Charles, Abdullah, Musa, Kosni, & Maliki, 2017).

Dalam permainan tradisional ada unsur penting yang terlibat:

  1. Interaksi Sosial

Dalam permainan tradisional yang dikenal di Indonesia selalu terjalin interkasi sosial. Beberapa anak berkumpul untuk melakukan sebuah permainan secara bersama-sama. Bahkan permainan congklak pun dimainkan oleh dua orang.

  1. Kerja sama

Unsur kerja sama sangat kuat dalam permainan tradisional. Dalam beberapa permainan terbentuk kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok mengusung kerjasama agar permainan dapat berlangsung. Contohnya permainan gobak sodor, dimana masing-masing regu harus bekerjasama untuk dapat menyelesaikan permainan sampai akhir.

  1. Menggunakan benda-benda yang ada di sekitar.

Tak perlu menggunakan alat yang rumit atau harus membeli terlebih dahulu, beberapa permainan tradisional bahkan bisa menggunakan kerikil saja. Seperti permainan dam-daman, dengan menggunakan batu kerikil pun dapat dilaksanakan.

  1. Mengandung nilai budaya

Permainan tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Unsur-unsur nilai budaya terekam dalam gerakan maupun nyanyian. Nilai-nilai budaya yang ditanamkan melalui permainan inilah yang secara menyenangkan diserap oleh anak. Sehingga anak tak terlepas dari budaya Indonesia yang kaya.

Manfaat Permainan Tradisional bagi Tumbuh kembang Anak

Ciri khas permaian tradisional:

  1. Aktivitas, Melakukan kegiatan.
  2. Sebagai sarana hiburan.
  3. Membutuhkan gerak aktif para peserta.
  4. Seni, Mengandung unsur seni seperti nyanyian atau tarian.

Dari cirri-ciri tersebut maka terdapat manfaat bagi anak yang melakukan permainan tradisional seperti yang diungkapkan oleh Mita Aswanti, seorang psikolog dan dosen Psikologi UI.

Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:

  1. Aspek Fisik-Motorik: Melatih otot tubuh dan motorik kasar/ halus, menyalurkan energi anak yang cenderung berlebih saat masa tumbuh kembang, serta mempertajam kepekaan panca indra.
  2. Aspek Sosial: Membina relasi, belajar peran sosial, belajar peran jenis kelamin, mengatasi masalah, belajar aturan dan moral
  3. Aspek Emosi / Kepribadian: Sebagai sarana ekspresi diri, konsep diri, sportivitas dan anak terlatih untuk cepat tanggap terhadap situasi sekitarnya.
  4. Aspek Kognitif: Permainan tradisional sebagai sumber belajar, eksplorasi, melatih strategi serta meningkatkan daya nalar/ daya ingat
  5. Aspek Bahasa: dalam melakukan permainan tradisional anak belajar kosa kata dari teman-teman sepermainannya. Selain itu juga saat bermain adalah saat anak melatih kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Mengenalkan permainan tradisonal pada anak harus melibatkan peran aktif orang tua. Ingat, utamakan unsure bersenang-senang. Kenali type kepribadian anak, bagaimana cara anak belajar sesuatu, apa yang menarik minatnya. Setelah itu barulah orang tua mencari jenis permainan tradisional yang cocok dengan si anak.

Jika serang anak memiliki kecerdasan kinestetik, tangkas dan memiliki keseimbangan yang baik anak bisa diperkenalkan kepada permainan engrang. Namun jika anak lebih suka permainan yang lebih pasif maka anak bisa diperkenalkan pada permainan congklak, damdas, bola bekel atau kelereng.

Jenis permainan tradisional yang beragam ini memiliki manfaat yang baik dalam menstimulasi tumbuh kembang anak. Anak tak lagi terlalu bergantung pada gawainya. Selain mengenalkan budaya dan seni Indonesia orang tua juga dapat memberi pemahaman permainan tradisional adalah permainan yang menyenangkan dan menggembirakan.(em)