Beberapa waktu lalu, dunia maya dihebohkan dengan video berdurasi satu menit tentang seorang perempuan yang mengaku artis dilabrak oleh seorang gadis remaja. Disinyalir artis tersebut adalah selingkuhan ayahnya. Video yang diunggah di instagram itu sontak membuat heboh pengguna internet terlebih lagi para istri. Banyak yang mendukung tindakan si anak namun ada juga yang menyayangkan kenapa ibu sang anak tersebut mengajarkan kebencian pada selingkuhan ayahnya.

Permasalahan rumah tangga yang kerap berujung pada perceraian adalah karena adanya orang ketiga.  Dan tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran orang ketika memiliki kesakitan yang berbeda dibanding jika rumah tangga tersebut terbentur persoalan lain seperti financial misalnya. Perempuan yang merebut suami orang itu banyak diistilahkan sebagai pelakor dan kebanyakan jari akan menunjuk kepadanya sebagai penyebab retaknya rumah tangga.

Kalimat cerai biasanya akan langsung dicetuskan oleh istri ketika mengetahui suaminya selingkuh. Namun banyak diantara para suami ini tidak ingin berpisah dari istri pertama dengan alasan masih sayang dan kasihan anak-anak. Terlihat egois memang,  karena ketika berkata masih sayang istri tapi tidak menunjukkan rasa ingin berpisah dengan Wanita Idaman Lain (WIL) tersebut. Lalu jika persoalan ini menerpa rumah tangga Anda apa yang sebaiknya dilakukan? Haruskah bercerai atau bertahan?

Berfikir ulang tentang tujuan awal rumah tangga

Rumah tangga yang dikatakan harmonis dan bahagia itu adalah ketika pasangan suami istri dan anak-anak merasa nyaman, percaya dan terlindungi. Istri ibarat pakaian untuk suami dan begitu sebaliknya. Anak-anak pula diumpakan seperti kancing atau resleting yang melengkapi baju tersebut. Lalu ketika ada lubang atau robek tentu masing-masing dari anggota keluarga ini berusaha menutupinya. Cara menutupi lubang itu bukan langsung menutup tapi mencari akar masalahnya kenapa ada lubang.

Alasan yang sering terlontar dari suami kenapa memiliki Wanita Idaman Lain biasanya karena kesalahan istri. Istri yang tidak pandai menjaga suami, tidak peduli kemana suami pergi sampai kalimat istri tidak hot di tempat tidur dan lain-lain. Jika hal ini yang diungkapkan sebagai alasannya maka satu persoalan telah terungkap. Suami menganggap letak kesalahan ada pada istri.

Lalu apakah dengan kesalahan-kesalahan yang diungkapkan suami tersebut istri pasrah menerimanya? Bagaimana dengan anak-anak. Karena sebenarnya perempuan lain yang datang tanpa dipinta itu bukan hanya menyakiti hati istri tapi juga anak-anak. Tidak ada yang meminta mereka membenci ayahnya, mereka mampu merasakan sendiri derita ibunya. Ikatan batin yang terjalin antara ibu dan anak tidak dapat dipungkiri. Dan pihak yang terluka wajar jika menunjukkan emosi mereka dengan marah, benci bahkan berani menyerang perempuan lain tersebut.

Menyelesaikan masalah dan mencari sumber hukum yang jelas

Diperlukan komunikasi yang serius dan intens dalam hal ini. Menyimpan masalah tidak menjadikan hati dan pikiran seseorang itu tenang. Gelombang emosi bisa sangat hebat jika sudah berubah menjadi depresi. Maka perlu kedewasaan kedua belah pihak dalam hal ini suami istri. Para suami tidak boleh egois ingin memiliki keduanya jika memang tidak mampu. Standart mampu bukan berarti hanya mampu menafkahi secara lahir tapi bathin lebih penting. Nafkah batin bukan hanya terbatas pada hubungan seksual tapi psikologis istri. Apakah konsep harmonis dan bahagia masih bisa didapat oleh istri?

Dalam kompilasi hukum islam sudah ditetapkan bahwa jika suami ingin menikah lagi harus ada surat pernyataan izin dari istri dan disahkan oleh Pengadilan Agama. Artinya tidak dibenarkan seorang suami melakukan nikah siri tanpa sepengetahuan istri.

Sesuai ketentuan pada BAB IX tentang BERISTRI LEBIH DARI SATU ORANG pasal 57 yaitu:

Pengadilan agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:

  1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.
  2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
  3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Dengan berpedoman pada UU di atas istri boleh menuntut cerai bila suami kedapatan selingkuh atau nikah siri tanpa sepengetahuan istri. Sebab pada pasal 55 ayat 2 dijelaskan bahwa:

  • Syarat utama beristri lebih dari seorang, suami harus berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya.
  • Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristri lebih dari seorang.

Ketika suami istri berbicara tentang permasalahan rumah tangga mereka yang goyah hanya berdasarkan perasaan dan kebiasaan masyarakat biasanya hanya berujung pada pertengkaran. Dan inilah yang membuat anak-anak semakin tertekan. Banyak dari istri yang akhirnya berbagi suami tanpa kerelaan. Lalu dimana letak keadilannya?

Namun permasalahan ini akan berbeda jika suami istri tersebut berbicara lewat payung hukum yang jelas. Bahwa keadilan dirasa tidak akan didapat jika beristri lebih dari satu. Bahwa istri pertama merasa diabaikan atau dikhianati dengan pernikahan suami yang diluar persetujuannya. Jika hukumnya jelas maka istri dapat menuntut cerai.

Tidak ada yang menginginkan perceraian namun jika dalam rumah tangga ternyata tidak ada lagi kenyamanan bagi orang-orang didalamnya maka berpisah akan menjadi solusi untuk terus menjalani hidup. Akan tetapi jika masih bisa diperbaiki maka kata cerai sebaiknya dihindari.(wa)

Sumber: UU Kompilasi Hukum Islam