Kini, banyak anak-anak yang menggunakan internet untuk mencari tugas sekolah. Sehingga penggunaan internet pada anak-anak pun meningkat tajam. Tapi benarkah anak-anak sudah menggunakan internet dengan benar? 
Beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Tabloid Nakita, telah digelar sebuah survey terhadap 500 anak dan remaja untuk mengetahui bagaimana orangtua melakukan pengawasan. Hasilnya, 75% anak dan remaja mengaku tak ada pengawasan dari orangtua ketika mereka menggunakan internet. Bahkan sepertiga waktu anak digunakan untuk mengakses internet dan ini tak dilarang oleh orangtua.
 
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan dukungan UNICEF pada 2011-2012 melakukan penelitian terhadap 400 anak di pedesaan dan perkotaan. Hasil penelitian itu menunjukkan 80 persen anak-anak usia 10-19 tahun telah mengakses internet. Jumlah pengakses terbanyak adalah anak berusia 14-15 tahun (26 persen), dengan tingkat pendidikan terbanyak SMP (39 persen). Mayoritas mengakses internet dengan tujuan untuk mengakses sosial media, selain mengerjakan tugas, bermain game. Sekitar 24 persen mengaku membangun komunikasi dengan orang yang baru dikenal di internet.
 
anak-dan-internet
Padahal tak semua konten aman karena internet sangat mungkin memberikan konten kekerasan dan pornografi kepada anak. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan pada 2011-2014 tercatat 1.022 anak menjadi korban kejahatan dunia online yaitu mencakup pornografi, prostitusi anak, objek rekaman CD porno, dan kekerasan seksual. Selain itu 24 persen dari jumlah anak-anak di atas mengaku memiliki materi pornografi berupa teks, gambar maupun video yang diakses melalui beragam alat seperti telepon genggam, kamputer, laptop, dan diberagam tempat yang menyediakan akses internet seperti rumah, sekolah, ruang publik dan warung internet.
 
Hanya sekitar 50,9 persen anak dan remaja yang menjadi responden riset ini mengaku mendapat petunjuk atau aturan mengakses internet dari orang tua, sekitar 20,8 persen mengaku mendapat pedampingan langsung saat berselancar di dunia maya dari orang tua. Serta hanya 16,7 responden yang mengaku berteman dengan orang tua mereka di media sosial.
 
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan bahwa pemerintah mempunyai komitmen melakukan perlindungan anak di dunia maya. Di antaranya, tidak hanya melakukan blacklist web-web bermasalah.  “Namun berkomitmen mempromosikan whitelist, situs-situs layak akses, terutama bagi anak-anak,” kata Rudiantara, saat memberikan pidato di Penghargaan Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak AJI-UNICEF 2016 di Lotte Shopping Avanue, Jakarta Selatan, 29 November 2016. 
 
Untuk meminimalisir dampak penggunaan internet, orangtua sebaiknya berkomunikasi dengan anak tentang bahaya penggunaan internet jika tak diawasi oleh orangtua. Pengawasan penggunaan internet sebaiknya dilakukan oleh orangtua sehingga orangtua bisa mengetahui konten apa saja yang d akses oleh anak. Sudahkah Anda mengawasi penggunaan internet oleh si kecil? (rab).