Tips dan Trik Mencegah Cyber Crime

0
32

Hallo sahabat Serempak, semoga sehat selalu. Ah iya, tanggal 2 Mei 2017, KPPPA dan Serempak mengadakan workshop yang bertajuk “Waspada Cyber Crime: Pencegahan dan Penanggulangannya” di STMIK Jenderal Ahmad Yani Yogyakarta. Mendengar istilah cyber crime, sepertinya terdengar berat, akan tetapi dengan adanya dinamisasi dunia digital. Hal tersebut, mau tidak mau wajib kita pahami agar tidak menjadi korbannya.

Sebelum acara dimulai, para mahasiswa STMIK Jendral Ahmad Yani dengan luwes menari tari tradisional “Tari Jai”. Tepuk tangan meriah dari peserta menggema saat tarian selesai.

Selanjutnya, Ibu Ratna, KPPPA memberikan materi pertama membahas dunia cyber yang memiliki sisi negatif dan positif untuk netizen. Beliau menuturkan bahwa KPPPA sedang fokus terhadap dampak negative dunia cyber, khususnya bagi perempuan dan anak-anak. Kasus yang banyak disoroti adalah human trafficking. Jadi, jual beli anak dan perempuan di era digital ini sudah semakin canggih—via internet. Dalam workshop tersebut, Ibu Ratna mengimbau para peserta untuk tidak tergiur dengan iming-iming penawaran di internet.

 

Selain itu, untuk menghindari human trafficking, keluarga menjadi pilar utama. Peran orangtua sangat penting mengajarkan anak-anaknya agar menggunakan internet dengan bijaksana. Tidak melulu berdampak negatif, internet memiliki pengaruh positif jika dapat menggunakannya dengan optimal. Contohnya: dengan internet bisa mendukung kota-kota di Indonesia menuju “Smart City”. Perlu diketahui bahwa adanya smart city akan memacu produktifitas masyarakat. Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sedang menerapkan konsep tersebut. Melalui internet, Yogyakarta dikenal di seluruh Indonesia dengan kearifan lokal dan budayanya.

Berangsur siang, materi utama mengenai cyber crime dimulai. Para pemateri naik ke stage. Acara tersebut dimoderatori oleh Agung Yulianto Nugroho yang merupakan founder Technoporia. Materi pertama disampaikan oleh seorang Konsultan dan Pengajar IT, Bapak Surahyo Sumarsono. Gaya bahasa dan penyampaiannya yang enak membuat saya bisa memahami arti cyber crime, meskipun ada beberapa istilah yang awam digunakan.

Menurut beliau, cyber crime sebenarnya terjadi dari hal yang paling sederhana. Contohnya: sms mama minta pulsa atau sms dengan iming-iming hadiah sekian juta dan bisa ditebus di bank X. Sebagian peserta ber, “ooooh” panjang, karena baru menyadari bahwa hal tersebut juga diklasifikasikan sebagai cyber crime. Salah satu peserta ada yang sharing karena kesal dikirimi “sms mama minta pulsa”, ia membalas sms tersebut yang mengakibatkan pulsanya tersedot tiap hari. Nah kan, ternyata cyber crime tidak melulu tentang pembobolan di bank atau hal besar lainnya. Karena banyak contoh kecil lainnya yang ternyata hal tersebut sering menjadi aktivitas kita sehari-hari yang dapat memicu terjadinya cyber crime.

Menurut Pak Surahyo, etika pemanfaatan gadget sangat penting, karena yang dihadapi adalah banyak orang. Saat kita memutuskan untuk membuat status di facebook dengan setting “public”, maka semua orang akan membaca apa yang kita tuliskan tersebut. Kadang kita sering latah untuk menumpahkan kegalauan di facebook, atau share tentang tiket bepergian yang di dalamya terdapat nama dan ID kita. Hal tersebut ternyata juga memicu terjadinya tindakan cyber crime. Jadi, dampak status kita tidak hanya 1 atau 2 orang saja melainkan banyak orang.

Cyber crime tidak hanya menyerang sistem, tetapi menyerang “seseorang” atau habbit seseorang. Maksudnya, yang menjadi obyek bukan lagi sistem komputer tetapi lebih ke manusianya. Masih hangat berita bahwa salah satu provider di Indonesia di-hack dengan menggunakan kata-kata kotor. Hal itu tidak hanya menyerang system provider-nya tetapi trust dari para pelanggan yang merasa tidak aman kalau data diri mereka tersebar. System mungkin bisa segera diperbaiki, tetapi kalau kepercayaan pelanggan setia kemungkinan butuh waktu yang cukup lama untuk dipulihkan. Itulah yang dimaksudkan Pak Surahyo kalau dampak dari cyber crime bukan lagi sebuah system tetapi mengarah ke manusia.

Contoh lain adalah bullying di sosial media. Dan korbannya kebanyakan anak-anak dan perempuan. Bukan tanpa alasan karena saat ini anak-anak sudah banyak yang memiliki dan mengoperasikan HP sendiri. Kontrol orangtua sangat diperlukan untuk meminimalisir tindak cyber crime yang memungkinkan menyerang anak-anak.

Bullying lain juga terjadi saat penyelenggaraan Pilkada. Masih ingat Pilkada DKI yang sampai sekarang banyak sekali yang perang opini di sosial media? Caci makian mereka termasuk dalam cyber crime yang nantinya mengarah ke habbit netizen untuk bertindak kejahatan.

Ada juga yang bunuh diri dan ditayangkan live di facebook. Itu sangat bahaya karena jika sampai ditonto oleh anak-anak, mereka dapat mengasumsikan bahwa tindakan bunuh diri tersebut dibenarkan. Untuk kalangan blogger seperti saya, cyber crime yang sering dialami adalah menyebarnya virus malware. Jadi, untuk menghindari kejahatan cyber crime, sebaiknya kita bijaksana menggunakan social media. Mengganti password secara berkala juga dapat dijadikan pilihan sebagai safety.

Materi kedua disampaikan oleh Ibu Norma Sari, SH., MHum, seorang Dosen UAD sekaligus aktivis perempuan dan anak. Saya senang sekali dengan materi ini karena linier dengan jurusan kuliah. Awalnya pesimis kalau pembahasannya akan boring, tetapi ternyata saya keliru. Bu Norma menyampaikan isu-isu hukum dengan lugas dan diselingi dengan humor yang membuat peserta tertawa berjamaah.

Pertama kali beliau membahas tentang Fear of Missing Out (FOMO) yang merupakan pemicu timbulnya cyber crime. Senada dengan pesan Pak Surahyo, Bu Norma menghimbau peserta untuk menggunakan internet dengan sehat. Karena di Yogyakarta sempat geger dengan kasus mahasiswa asal Papua yang terjerat hukum karena membuat status yang tidak semestinya. Kasus tersebut sempat viral di jagat maya.

Beliau juga menceritakan kalau ada seorang ibu yang bernama Ervani di Bantul yang tersangkut kasus hukum karena curhat di FB mengenai sikap supervisor di perusahaan suaminya yang dinilai tidak pantas. Atas statusnya tersebut, perusahaan menuntut dengan UU ITE. Bu Norma juga menyajikan data-data yang mengindikasikan bahwa kasus penipuan online di Indonesia sangat tinggi.

Untuk mencegah adanya cyber crime, dalam pandangan hukum Bu Norma memberikan solusi. Beliau mengutip pendapat Lawrence Friedman yang terkenal dengan konsep system hukumnya: Substansi hukum, struktur hukum, budaya hukum. Dengan mereformasi ketiganya diharapkan dapat mengurangi adanya tindakan cyber crime.

Di akhir materinya, beliau juga memberikan tip-tip sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari, antara lain untuk yang hobby berbelanja di online shop sebaiknya berbelanja di toko online yang terpercaya, tidak tergoda dengan harga yang terlalu murah, gunakan system pembayaran COD, menyimpan bukti struk pembayaran.

Acara terakhir diisi oleh Ibu Martha Simanjuntak yang menjelaskan tentang serempak dan mengajak audiens untuk berpartisipasi di dalamnya. Menyimak pemaparan beliau, banyak sekali kegiatan positif yang sering diadakan oleh Serempak dengan KPPPA. Salah satunya dengan menulis di web-nya.

Terima kasih KPPPA dan Serempak, for having me in this event. Banyak ilmu yang bermanfaat mengenai cyber crime yang belum saya ketahui sebelumnya, sehingga saya bisa lebih aware terhadap kejahatan tersebut. (Nur Sulistyaningsih)