“Mampukan saya menyusui kalau bekerja?” “Apakah ASI saya akan bertambah atau makin berkurang?” “Apakah kantor mendukung saya memberikan ASI?”

Mungkin banyak ibu yang bertanya-tanya seperti di atas. Ketiga hal ini kerap kali menganggu pikiran ibu bekerja yang sedang hamil atau harus menyusui buah hatinya. Menjadi ibu bekerja seharusnya tak menyurutkan semangat untuk memberikan ASI kepada buah hati. Apalagi peraturan perundang-undangan memberikan hak bagi ibu bekerja untuk tetap menyusui. Di Pasal 128 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan tepatnya ayat 3 disebutkan ‘Penyediaan fasilitas khusus diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.’ Peraturan Menteri Kesehatan No 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu.

Namun, data dari International Labour Organization (ILO) Jakarta Tahun 2015 menyebutkan, dari 142 perusahaan yang termasuk dalam daftar Better Work Indonesia (BWI), hanya 85 perusahaan yang memiliki ruang ASI. Lalu bagaimana cara agar ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI kepada buah hatinya saat telah kembali bekerja? Kali ini saya bagikan tips berdasarkan pengalaman saya ketika bergabung dengan dalam AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)

Kuatkan Niat Untuk Menyusui

Hal awal yang menurut saya penting adalah niat–niat untuk tetap menyusui saat bekerja. Dan niat itu harus disampaikan sejak awal kepada keluarga terdekat misalnya suami agar mendapat dukungan. Juga kepada pihak kantor juga harus disampaikan keinginan untuk memberikan ASI saat bekerja usai melahirkan

Persiapan Saat Hamil

Jika sudah punya niat untuk memberikan ASI, cara informasi sebanyak-banyaknya tentang menyusui setelah bekerja. Saya seringkali mencari informasi di website AIMi dan mencari cerita pengalaman ibu-ibu bekerja yang memberikan ASI. Bergabung di kelompok pendukung ASI juga merupakan salah satu bentuk persiapan agar dapat tetap memberikan ASI setelah bekerja. Saya bergabung di AIMI dan ikut membantu mensukseskan dukungan memberikan ASI kepada anak.

Persiapan Melahirkan

Mungkin terkesan sepele, tapi saat hamil ibu sebaiknya mulai belajar memerah ASI. Caranya, pertama-tama mencuci tangan sebelum memerah ASI dan siapkan wadah untuk menampung ASI. Letakkan jari tangan di payudara dan ibu jari di bagian atas areola dan jari yang lain di bawah areola. Lakukan gerakan mengurut ASI dalam wadah yang sudah disiapkan. Lakukan bergantian pada payudara kiri dan kanan setiap 3-5 menit.

Tabungan ASIP saya sebelum bekerja

Persiapan Ketika Kembali Bekerja

Pengalaman saya, saya menabung ASIP (ASI Perah) sebulan sebelum kembali bekerja. Saya perah sehari 4 kali agar tabungan ASIP bertambah banyak. Jadi, ketika sudah bekerja tak perlu lagi kuatir ‘kejar setoran’ karena ASIP telah habis. Namun yang paling penting pada saat bekerja, ASIP harus tetap diperah juga tetap menyusui bayi secara langsung. Jadwal perah ASIP bisa dimulai pada pukul 05.00 WIB setelah itu menyusui bayi. Di kantor, sekitar jam 10 dan jam 12 serta sebelum pulang kerja sebaiknya juga memerah ASI. Alternatif lain, perahlah ASI 3 jam sekali. Hal itu harus dilakukan secara konsisten. Malam hari sebelum berangkat kerja, ASIP beku harus diturunkan ke kulkas bawah. Jumlah ASIP yang diturunkan di kulkas bawah harus sesuai dengan kebutuhan jadwal minum susu bayi selama ibu bekerja.

Beberapa hal itu menurut saya penting dilakukan agar ASI masih tetap dapat diberikan kepada bayi walaupun ibu telah kembali bekerja. Satu hal yang penting juga adalah saling bertukar informasi dan pengalaman dengan sesama ibu bekerja.

Sumber Foto :pixabay.com (rab)