Anak-anak sering mendapatkan bullying dari teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan rumah. Anak-anak kita pun bisa menjadi pelaku bullying yang berdampak negatif pada penerima bullying dan perkembangan anak kita sendiri. Sebagai orangtua, kita perlu mengenalkan pengertian bullying kepada anak-anak sejak kecil. Orangtua juga perlu mengajarkan anak untuk mengenali dirinya sendiri.

Ciri-ciri anak yang rentan di-bully:

  • Anak yang sulit bersosialisasi.
  • Anak yang fisiknya berbeda dengan yang lain (bertubuh gemuk/kurus, berkulit hitam, bibir tebal, dll).
  • Anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dibanding anak lainnya.
  • Anak yang tidak menguasai bidang tertentu atau kemampuan yang kurang. Misalnya cara bicara anak yang tersendat-sendat bila bicara di depan kelas, anak yang tidak bisa berlari, dan lainnya yang sering menimbulkan bahan tawaan/bully.
  • Terkadang anak yang mempunyai nama yang bisa diplesetkan pada hal-hal yang tidak berkenan di hati anak. Misal, nama anak Raisa, dan teman-temannya memanggilnya Raiso (Ra Iso: bahasa Jawa).

Untuk mencegah terjadinya bullying, ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh kita sebagai orangtua.

bully-pixabaydotcom

Menurut Stop Bullying.gov, maka kita, orangtua bisa membantu anak agar terbebas dari bullying. Berikut ini tips-nya:

  • Membantu anak dalam pemahaman bullying. Ajak anak untuk berbicara apa itu bullying, bagaimana mencegah diri agar aman dari bullying dan cara mendapatkan bantuan. Tanamkan kepada anak jika terjadi bullying pada dirinya atau temannya, ia bisa bicara kepada orang dewasa yang dipercayainya.
  • Ajarkan cinta kasih. Mengajarkan cinta kasih antar sesama merupakan cara paling efektif mencegah anak menjadi korban maupun pelaku bullying di masa depan. Besarkan anak-anak dengan atmosfir kasih sayang sejak dini. Orangtua pun bisa menunjukan hubungannya dan interaksi dengan orang dewasa lainnya yang bisa menanamkan memori buat si anak. Anak akan mengikuti perilaku orangtua dan mengaplikasikannya di kehidupan sosialnya.
  • Jaga komunikasi dan pendekatan emosional dengan anak. Komunikasi yang terbentuk dari sejak anak lahir sampai mereka tumbuh, bisa membuka keterbukaan anak kepada orangtua. Anak-anak dengan mudah, aman, dan nyaman tidak segan bercerita apapun kepada orangtua. Biasakan orangtua berbicara tentang pelajaran yang disukai/tidak disukai, teman sebangkunya, gurunya, jadwal sekolah, games, dan lain-lain.
  • Gali potensi dan ajak anak melakukan hal yang mereka suka. Kenali potensi anak sekaligus mengajaknya turut serta mengenalinya. Cara ini dapat membuat anak mengetahui apa minat, hobi, dan kegiatan yang mereka suka. Ajak anak melakukan kegiatan yang disukainya di sekolah/non-sekolah. Selain meningkatkan bakat dan minat, anak juga belajar bersosialisasi yang dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya.
  • Tanamkan keberanian dan ketegasan kepada anak. Orangtua memberikan contoh cara tegas jika haknya dilanggar, misal anak lain meminjam mainan secara paksa. Tumbuhkan keberanian mengatakan “tidak” secara sopan dan kemampuan menjelaskan alasan dengan baik kepada temannya. Otomatis anak mengerti cara beretika dengan baik yang bisa terbawa sampai dewasa.

Peran orangtua dalam pencegahan tidak saja mengacu pada si anak tapi perlu melihat lingkungan keluarga.  Apakah kita sebagai orangtua sudah menciptakan keharmonisan di lingkungan internal? Hubungan rumah tangga  tidak harmonis yang diperlihatkan kepada anak dan kurang komunikasi merupakan lingkungan yang rentan terjadinya bullying pada anak. Berarti tidak hanya anak yang perlu dipasang ‘pagar’ tetapi hubungan Ayah dan Ibu juga perlu keselarasan dan intropeksi.

Media televisi dan online  yang kerap memberitakan bullying sering membuat para orangtua takut menyekolahkan anaknya di sekolah umum. Mereka lebih memilih home schooling sebagai pilihannya. Banyak faktor dan pro –kontra meyangkut home schooling. Banyak yang bilang, home schooling justru membuat anak tidak pandai bersosialisasi, bahkan tidak memiliki teman. Banyak juga yang menangkas opini tersebut dengan membuktikan bahwa anak-anaknya punya banyak teman, meski home schooling.

Perbedaan pendapat boleh-boleh saja, sayangnya ketakutan dan keegoisan orangtua tidak didukung pengenalan terhadap anak yang sesungguhnya. (sn)