“Sebaiknya kamu kerja kantoran lagi, deh. Gak usah jadi ibu rumah tangga.”

Beberapa tahun silam, saya pernah memberikan saran seperti itu kepada seorang sahabat. Setelah sekian tahun bekerja, dia memilih untuk berhenti dengan alasan ingin mengurus anak-anak. Sebuah alasan yang sangat mulia, kan? Tetapi saya malah menyarankan untuk kembali bekerja. Aneh? Oh tidak, saya punya alasan mengapa menyarankan seperti itu.

Saya mengenal sahabat saya sebagai pribadi yang sangat ceria. Kalau ada dia saat berkumpul, pasti ramai. Ada saja kelucuan yang dia ceritakan. Dia ini tipe orang yang tidak mudah khawatir, masalah apapun menurutnya bisa diselesaikan tanpa mengurangi keceriaannya.

Tetapi segalanya berubah sejak dia berhenti bekerja. Setiap kali ngobrol, yang keluar dari mulutnya adalah keluhannya. Beginilah begitulah, ada aja masalahnya. Tentu saya berusaha memberi saran sebisa mungkin. Namun, semua saran saya sepertinya mental–keluhannya bukan berkurang, justru bertambah.

Saya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik baginya, dengan sesekali memberi saran. Namun, saya merasa ada satu yang hilang dari dia: kebahagiaan. Dari mengamati keluh kesahnya, saya menyimpulkan bahwa dia merindukan pekerjaan kantor, kesibukan rutin yang sepertinya selalu bisa membuat dia ceria.

Happy Wife, Happy Family – Rio 2

Pertama kali saya mendengar quote tersebut saat menonton film animasi Rio 2. Setuju sekali dengan quote tersebut dan langsung menjadi favorit saya. Saya percaya kalau istri yang berbahagia maka keluarga pun akan bahagia. Hal itu bisa terjadi karena istri mengurus keluarganya dengan hati yang senang. Namun, hal ini tidak tercipta begitu saja. Perlu andil orang terdekat untuk membuatnya bahagia. Ada beberapa tips untuk membuat istri menjadi bahagia.

Jalin Komunikasi yang Baik dengan Suami

Saya sering mendengar kalimat kalau perempuan adalah makhluk yang paling sulit dimengerti. Saya pun kadang mengalami hal seperti itu. Tetapi bila dipikir lagi, terkadang perempuan juga yang tidak mengungkapkan maksudnya secara langsung kepada pasangan. Akhirnya terjadi salah paham atau istri menganggap suami tidak peka.

Dalam keluarga, mengurus rumah seharusnya menjadi peran bersama.  Saling pengertian pun harus diciptakan. Suami harus berusaha mengerti kelelahan istri setelah seharian mengurus rumah dan anak-anak. Begitu juga dengan istri mencoba memahami suami yang sudah mencari nafkah di luar rumah.

Tidak perlu merasa tertekan ketika ada yang menghakimi bahwa ibu rumah tangga tidak melakukan apapun di rumah. Tidak perlu merasa sakit hati. Saya baru mengalaminya, dan memilih tidak menanggapi sembari tersenyum saja. Saya tetap bahagia karena tahu persis suami mengerti aktivitas saya sehari-hari. Jadi kenapa juga saya harus pusing dengan pendapat orang lain yang bahkan tidak saya kenal dengan baik?

Bila ada permasalahan di dalam rumah tangga, sebaiknya ungkapkan dan diskusikan bersama. Cari waktu yang tepat untuk berbincang-bincang. Masalah jangan dipendam sendiri, apalagi dibiarkan berlarut-larut.

Luangkan Waktu untuk Melakukan Hal yang Disukai

Sesibuk-sibuknya mengurus rumah tangga, sebaiknya cari waktu sejenak untuk menyenangkan diri. Gak harus keluar rumah, kok. Apalagi sampai menunggu waktu untuk liburan panjang. 10-15 menit meluangkan waktu untuk minum secangkir teh hangat sambil membaca buku favorit juga sudah menyenangkan.

Lupakan sejenak urusan rumah yang masih berantakan. Lantai belum disapu, piring belum dicuci, dan lain sebagainya. Sisihkan waktu untuk diri sendiri untuk melakukan yang disenangi. Me time, begitu banyak orang bilang

Merenunglah

Mungkin anjuran agar sahabat saya kembali bekerja terdengar begitu berani. Sebetulnya, saya menghargai keputusannya resign karena ingin mengurus anak. Saran saya memintanya kembali bekerja kembali maksudnya adalah supaya dia bahagia.

Cobalah untuk merenung sejenak dan bertanya pada diri sendiri, kebahagiaan kita sebenarnya di mana, sih? Mungkin kita sebetulnya lebih bahagia berada di rumah, hanya saja belum menemukan caranya. Jadi cobalah untuk merenung dan menimbang kembali sisi positif serta negatifnya.

Teruntuk para ibu di manapun, jangan lupa untuk berbahagia. Karena kebahagiaan keluarga ada di tangan ibu. (ma)