Ibu mana yang tidak ingin sempurna dengan segala cinta dan kasih sayang untuk buah hatinya? Ibu mana yang tidak ingin memberikan keajaiban sesuai kodrat dan sunatullahnya dalam melestarikan garis keturunan? Semua ibu akan melakukan hal sama, memperjuangkan apapun demi perkembangan anak, termasuk dalam memberikan Air Susu Ibu (ASI).

Namun, jika ASI yang dinanti tidak juga kunjung datang, haruskah sang ibu meradang? Atau merasa jadi ibu yang tidak berguna dan sibuk menyalahkan diri? Belum lagi ditambah omongan orang yang sering menusuk perasaan seolah ibu tanpa ASI itu sebuah aib yang harus dikucilkan. Perasaan bersalah dan tidak berguna kerap datang manakala ASI tidak muncul.

Untuk semua ibu yang pernah mengalami hal itu, yang entah karena apa ASI tidak keluar, percayalah jika kalian tidak sendirian. Masih ada saya dan begitu banyak ibu-ibu lain di luar sana mengalami hal serupa. Meratap berkepanjangan bukanlah solusi, sementara tanggung jawab ibu masih banyak. Mari kita bergandengan tangan dan saling menguatkan.

Ibu yang pernah mengalami ASI tidak keluar atau tidak lancar bukannya tidak tahu tentang  pentingnya ASI untuk bayi. Sejak sebelum menikah, masa program hamil, sampai menjelang detik-detik kelahiran buah hati, ibu selalu mendapatkan sosialisasi tentang pentingnya ASI dalam siklus hidup dan kehidupan manusia. ASI adalah bagian utama dari perlindungan terhadap ketahanan dan daya tahan tubuh bayi, karena itu dukungan menyusui bagi para ibu dan bayi selalu gencar dilakukan.

Hampir semua perempuan yang menjadi ibu di zaman milenium ini tahu jika bayi lahir hingga usia 6 bulan harus mendapatkan ASI eksklusif. Setelah itu, pilihan ada di tangan masing-masing ibu, mau meneruskan menyusui hingga anak berumur 2 tahun atau memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Setiap Agustus minggu pertama, Pekan ASI Sedunia diperingati. Sebuah penelitian yang dilakukan Prasetyono dalam jurnal Yulianah dkk. (2013), mengatakan pemberian ASI eksklusif di Indonesia tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya dukungan, baik dari orang-orang terdekat maupun fasilitas umum untuk menunjang kebutuhan para ibu menyusui.

Tapi tenang dulu, pekan ini tidak diadakan dalam rangka menyindir ibu yang ASI-nya tidak keluar atau tidak lancar. Ibu menyusui sampai 2 tahun memang lebih hemat, anak lebih diunggulkan sehat dan cerdas. Namun, bukan berarti para ibu, yang dengan terpaksa, memberikan pengganti ASI dengan susu formula, mendapatkan jaminan anaknya tidak akan sehat dan cerdas. Tidak demikian, wahai para ibu…

Para ibu yang mengalami kendala dalam memberikan ASI memang tidak punya pilihan lain. Memberikan susu formula sebagai pengganti adalah hal yang jauh lebih bijak daripada membiarkan buah hati kelaparan dan pertumbuhannya tidak maksimal. Tidak perlu baper, apalagi menyalahkan diri. Percaya saja pada kehendak Nya, toh masih ada solusi lain demi tumbuh kembang buah hati.

Para ibu yang terkendala saat memberikan ASI tahu betul bagaimana berdarah-darahnya berjuang supaya ASI-nya keluar demi si buah hati. Cara tradisional maupun yang lebih modern sanggup mereka tempuh. Dukungan terhadap ibu yang ASI nya tidak lancar sangat diharapkan. Bukan hanya dari keluarga terdekat tapi juga dari masyarakat dan pemerintah.

Perlu diketahui, salah satu penyebab ASI tidak keluar atau tidak lancar adalah kondisi si ibu yang tertekan, stres, atau banyak pikiran. Alih-alih menyalahkan, yuk mari berikan perhatian lebih kepada para ibu atau calon ibu yang akan menyusui supaya bisa riang dan bahagia. Dengan duk orang-orang terdekat, kondisi emosional para ibu cenderung lebih stabil sehingga lebih rileks dan konsentrasi dalam menjalankan perannya sebagai ibu yang terbaik bagi buah hati.

“Happy World Breastfeeding Week! Mari dukung ibu menyusui!” (Ol)