Di zaman dengan era Teknologi informasi saat ini, peran wanita disebut-sebut setara dalam berbagai hal. Kalau di zaman dahulu, kaum hawa digambarkan tidak dapat berbuat apa-apa dan tak berdaya, namun hal ini sekarang terbantahkan oleh banyaknya peran wanita dalam berbagai aspek kehidupan.

The Equality of Gender menjadi tameng kuat bagi wanita dalam berkarir, namun terkadang juga membuat kaum hawa melupakan tupoksi-nya sebagai seorang wanita, yakni mendidik anak serta menjadi sekolah pertama bagi anak dalam menghadapi kehidupannya.

Salah satu contoh wanita yang bertekad tinggi kita kenal adalah Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan wanita dan pionir yang memiliki peran dalam perkembangan kesetaraan gender hingga sekarang ini. Dalam kehidupannya, sekarang ini, banyak wanita yang bercita-cita menjadi wanita karir beriringan dengan karir pasangannya atau bahkan menyainginya. Tekad tingginya sungguh baik, namun justru tidak boleh juga untuk melupakan tugas wajibnya sebagai seorang ibu.

Meski demikian, masih ada segelintir wanita yang jauh dari kata merdeka karena dipenjara oleh keadaan kehidupan dan dipaksa untuk pasrah dan tidak berbuat apa-apa. Korban penyiksaan pun masih banyak dialami oleh wanita karena keadaan pasrahnya tersebut.

Namun, kini saat yang tepat bagi wanita dalam berusaha dan tidak hanya pasrah akan nasib kehidupan. Salah satunya adalah Ibu Fartiana, seorang wirausaha wanita di Kota Batam yang mempunyai usaha berdikari dengan omzet puluhan juta rupiah. Tentu, beliau juga dapat menjadi contoh yang patut ditiru oleh kaum hawa di seluruh Indonesia.

Seorang janda bermodalkan tekad dan semangat untuk berusaha, kini telah sukses dalam menjajahkan dagangannya. Meski produknya hanya keripik, namun beliau mampu menghasilkan omzet besar dan dapat menghidupi keluarganya tanpa harus mengkhawatirkan finansial apapun.

Dalam wirausaha, naluri kewanitaan tentu tidak dapat hilang begitu saja, melainkan harus dapat bekerja lebih cermat, pandai mengantisipasi masa depan, harmonis dan kerja sama yang kuat dalam menjalani kehidupan usaha tanpa melupakan kehidupan dan perkembangan keluarga.

Bagi kehidupan wanita, tentu banyak sektor yang dapat dijadikan momen untuk menjadi wirausaha wanita, karena bisnis tak melulu tentang modal besar dalam bentuk uang, melainkan kemampuan atau skill. Sebagai seorang perempuan, tentu wajib hukumnya memiliki kemampuan ataupun pengalaman dalam memasak. Kemampuan tersebut dapat kita manfaatkan untuk berwirausaha dalam sektor makanan. Mulai dari hal kecil, seperti membuka jasa katering ataupun membuat kue hingga makanan ringan. Hal ini tak bisa kita ambil sepele, karena faktanya dengan aktivitasnya ini Fartiana dapat menghasilkan pundi rupiah dan bahkan menghajikan dirinya sendiri.

Faktanya, wirausaha wanita kebanyakan dimotivasi oleh adanya rasa ingin berprestasi atau adanya frustasi dalam kehidupannya ataupun merasa terkekang dalam mengeksplorasi kehidupannya. Dalam hal permodalan pun, wanita juga terkadang sulit mendapatkannya, melainkan bersumber dari tabungan pribadi sebelumnya. Dalam karakteristik pun, wanita memiliki sifat toleransi dan fleksibel karena memiliki tanggung jawab kedua sebagai ibu untuk anak-anaknya.

Kemampuan wirausaha wanita juga dapat dilatih. Hal terpenting dalam wirausaha adalah kemampuan menjual, karena dalam menjual suatu produk anda memang harus fokus untuk mencari cara terbaik dalam memperlancar perputaran uang bisnis. Jika anda tidak sanggup untuk urusan penjualan, anda dapat menyerahkan urusan penjualan pada orang lain.

Tentu, banyak sifat lain wanita dalam berwirausaha, seperti kepercayaan, orientasi hasil, pengambilan resiko yang baik, leadership yang sesuai, kreatif dan terus berusaha menghasilkan sesuatu yang baru mengikuti perkembangan kehidupan. (aaw)