Oleh Donna Imelda

Dengan internet dan teknologi informasi, dunia seolah dalam genggaman, informasi mengalir deras tanpa batas, menyajikan fakta dan data nun jauh di sana ke tempat kita berada hanya per sekian detik jeda. Sungguh sebuah fenomena yang luar biasa. Lalu bagaimana dengan kita para perempuan? Sudahkah kita makin berdaya dengan keberadaan internet dalam kehidupan kita?

=====================================

Membicarakan topik perempuan, anak-anak dan teknologi informasi seolah bicara tentang diri sendiri, tentang ibu kita, tentang anak-anak kita dan tentang saudara-saudara perempuan kita. Ketiganya kini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan nyaris di segala lini dan di seluruh pelosok negeri. Namun begitu, seberapa jauh teknologi dan informasi bisa meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak-anak, masih menjadi sebuah pekerjaan rumah yang terus diupayakan.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, pengguna internet aktif sudah mencapai 88, 1 juta orang dan 51% adalah perempuan begitu juga dengan pengguna sosial media yang didominasi oleh perempuan. Jumlah perempuan di Indonesia yang hampir mencapai 50% dari jumlah penduduk Indonesia adalah suatu angka yang potensial untuk ikut memajukan negeri ini bila mereka memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mengakses dan menggunakan teknologi informasi.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Namun kenyataannya hingga kini masih banyak perempuan yang menggunakan teknologi sebatas untuk berkomunikasi dan masih sangat tergantung pada laki-laki, baik sekedar untuk membiayai teknologi itu sendiri hingga ketrampilan dan pengetahuan untuk mengoptimalkan penggunaannya. Sehingga adalah hal yang perlu diapresiasi dengan baik ketika Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama dengan Iwita dan Serempak bersinergi menyusun panduan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pemberdayaan perempuan.

  • Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Berbagai kalangan dan komunitas diajak urun rembug untuk mendapatkan informasi dan merumuskan format yang tepat untuk penyusunan buku ini. Segala pikiran dan tenaga dicurahkan dalam rentetan berbagai pengerjaan, pertemuan, diskusi dan untuk kemajuan perempuan Indonesia hingga lahirlah Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pemberdayaan Perempuan.

Buku Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pemberdayaan Perempuan ini merupakan salah satu referensi yang bisa digunakan bagi perempuan Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bisa dimengerti oleh semua level pendidikan perempuan dalam masyarakat. Harapannya perempuan Indonesia bisa mengoptimalkan TIK dengan tertib, aman dan nyaman serta memberikan dampak yang positif dan optimal, bukan hanya dari aspek teknologi namun juga dari aspek hukum dan perundang-undangan transaksi elektronik.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Saya dan beberapa teman dari berbagai komunitas yang beberapa kali terlibat dalam penyusunan buku ini, baik dalam bentuk sarasehan atau Forum Discussion Group (FGD) pun menyambut gembira atas diterbitkannya buku Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pemberdayaan Perempuan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).  Terlebih pada akhirnya buku ini sampai juga di tangan saya saat menghadiri undangan Roadshow Serempak pada tanggal 1 Agustus 2016 di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.

  • Roadshow SEREMPAK 2016

Jakarta adalah kota ketiga tujuan Roadshow Serempak 2016 setelah Makassar dan Surabaya dan rencananya masih akan dilakukan di beberapa kota lain di Indonesia yaitu Bandung, Yogyakarta dan Medan. Kegiatan ini adalah sebuah upaya sosialisasi program-program Serempak di bawah naungan KPPPA untuk mengatasi kesenjangan gender di bidang TIK. Hal ini juga merupakan wujud kesetaraan gender melalui TIK berbasis masyarakat yang berfungsi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat menuju perubahan yang lebih baik terutama menghadapi daya saing di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang semakin tinggi.

Hadir sebagai narasumber dalam Roadshow Serempak di Jakarta, Ir. Agustina Erni, M. Sc (Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat KPPPA) sebagai keynote speaker, Mariam F Barata (Direktur Jenderal Aptika), Nuniek Tirta (community builder, digital nerworker and counselor), Nova Eliza (Founder Suara Hati Perempuan), Martha Simanjuntak, S.E., M.M. (Ketua Pokja SEREMPAK dan Founder IWITA). Kelima narasumber tersebut berbicara tentang TIK, perempuan dan anak dan kegiatan mereka terkait hal tersebut.

Bila Agustina Erni dan Mariam F Barata berbicara secara makro terkait hal tersebut, Nuniek Tirta berbicara tentang pengalamannya selama puluhan tahun memanfaatkan internet dan TIK untuk tumbuh dan berkembang sebagai perempuan dan profesional. Dalam uraiannya, saya bisa ikut merasakan bagaimana perempuan ini meraih kesuksesannya satu per satu baik sebagai pribadi, sebagai ibu dan istri juga sebagai profesional dan pendiri komunitas Start Up Lokal. Hal ini membuktikan bahwa dengan kemampuan dan keterampilan mengoptimalkan TIK, maka perempuan-perempuan Indonesia bisa maju, berkualitas, cerdas dan mandiri.

Nova Eliza dalam paparannya juga tak kalah menginspirasi. Beliau bercerita bagaimana kiprahnya bersama Yayasan Suara Hati Perempuan yang melakukan gerakan edukasi penolakan terhadap kekerasan perempuan dan anak. Tak kurang dari 60 public figures di Indonesia terutama kalangan pekerja seni seperti dirinya melakukan kampanye penolakan kekerasan untuk perempuan lewat media sosial. Yayasan ini juga membangun rumah singgah serta melakukan kegiatan seni untuk menggalang dana.

Sedangkan narasumber terakhir Martha Simanjuntak menjelaskan apa itu SEREMPAK dan mengajak seluruh hadirin dan netizen yang ada di luar sana untuk berpartisipasi aktif dalam mengupayakan kemajuan perempuan Indonesia melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan IWITA dan Serempak. Netizen juga diajak untuk berpartisipasi membagikan informasi atau membuat artikel melalui portal resmi SEREMPAK di www.serempak .id

Dari paparan seluruh narasumber tersebut, saya mengambil benang merah relevansi antara pemanfaatan TIK untuk pemberdayaan perempuan dan ‘Three Ends” yang menjadi program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2016. Bagaimana Three Ends yang terdiri dari, End Violence Against Woman And Children, End Human Trafficking dan End Barriers to Economic Justice ini terkait dengan pemberdayaan perempuan melalui TIK, mari kita lihat fakta di bawah ini.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

  • Three Ends untuk kehidupan perempuan dan anak Indonesia yang berkualitas

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2015, ada sekitar 3.700 anak yang menjadi korban kekerasan dan mirisnya, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan bahwa saat ini ada dua perempuan yang menjadi korban kekerasan pada tiap jamnya. Tiap jam lho!

Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (Catahu) 2016 menuliskan bahwa sepanjang 2015 kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di wilayah domestik, melainkan telah meluas baik dari sisi pola, bentuk maupun angka di berbagai ranah termasuk di wilayah publik. Berdasarkan jumlah kasus yang didapat dari 232 lembaga mitra Komnas Perempuan di 34 provinsi, terdapat 16.217 kasus yang berhasil didokumentasikan.

Sebagian besar data yang terdapat pada Catahu 2016 ini bersumber dari pengaduan yang berasal dari pengaduan korban ke lembaga-lembaga negara, organisasi pendamping korban, maupun pengaduan langsung ke Komnas Perempuan. Kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol terjadi di ranah personal. Catahu 2016 menunjukkan terjadi kenaikan data jenis kekerasan seksual di ranah personal dibanding tahun sebelumnya, yakni 11.207 kasus.

Di ranah komunitas, terdapat 5.002 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 1.657 kasus di antaranya jenis kekerasan seksual. Temanya pun meluas, yakni pekerja seks online, mucikari, selebriti pekerja seks, cyber crime, biro jodoh yang dinilai berkedok syariah, dan penyedia layanan perkawinan siri.

Sementara di ranah negara, masih saja ada oknum aparat negara yang menjadi pelaku langsung atau melakukan pembiaran pada saat peristiwa pelanggaran HAM terjadi. Komnas Perempuan mencatat ada 8 kasus yang melibatkan negara. Di antaranya 2 kasus pemalsuan akta nikah di Jawa Barat dan 6 kasus lainnya terjadi di Nusa Tenggara Timur terkait perdagangan orang atau trafficking.

  • Perlu kesadaran bersama

Sedih dan gemas rasanya membaca data dan fakta di atas. Bagaimana mungkin kualitas hidup suatu bangsa bisa tercapai bila perempuan sebagai ujung tombak dan anak-anak sebagai penerus bangsa masih harus mengalami kekerasan seperti di atas. Tepatlah bila kemudian KPPPA menjadikan program Three Ends ini sebagai program unggulan untuk mewujudkan kualitas hidup perempuan dan anak bangsa.

Hal ini tentu tak bisa dikerjakan sendirian oleh pemerintah dan memang sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Perlu kesadaran masyarakat agar bersinergi dengan lembaga atau organisasi di masyarakat untuk membangun lingkungan yang mampu melindungi perempuan dan menjamin tumbuh kembang dan perlindungan anak. Begitu juga media yang memiliki peran penting dalam mendukung isu responsif gender dan memahami tentang hak perempuan dan anak, termasuk mengakhiri budaya kekerasan yang kian marak.

Meski berada di urutan ketiga dalam program Three Ends, namun itu justru menjadi salah satu pokok persoalan yang harus dituntaskan untuk mengakhiri dua lainnya. Kesenjangan ekonomi dan kemiskinan menjadi faktor yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan menjadi alasan terjadinya perdagangan manusia dan anak. Tentu saja kita juga tidak bisa menampik faktor lain yang terlibat seperti minimnya informasi, latar belakang edukasi, isu gender, peraturan yang diskriminatif, kebiasaan setempat dan konflik politik.

Di sinilah peran perempuan dan kualitas dirinya berpengaruh terhadap upaya penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi. Dan itu bisa dilakukan salah satunya dengan mengoptimalkan  penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Mereka harus didampingi, diberi edukasi dan informasi hingga cerdas dan mandiri untuk mengurusi dan memajukan dirinya dengan teknologi informasi.

Kemampuan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi membantu perempuan mengakses banyak informasi untuk kemajuan dirinya, mengetahui bahwa ada banyak lembaga aturan dan aspek hukum yang berpihak pada perempuan untuk mereka akses bila terjadi kekerasan baik pada dirinya maupun yang terjadi di lingkungannya sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Bukan semata diam dan menjadi korban.

Kemampuan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi juga membantu perempuan-perempuan untuk lebih berdaya, baik dari segi pengetahuan dan ketrampilan juga aspek ekonomi yang pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan mereka sehingga memperkecil kesenjangan ekonomi. Mereka bisa belajar memproduksi barang atau jasa, hingga mengemas dan memasarkannya sampai menembus batas wilayah tak hanya di sekitar tempat tinggal mereka.

Tak bisa dipungkiri kekerasan pada anak kerap terjadi dalam rumah tangga dalam tekanan ekonomi dan keluarga yang tidak harmonis. Perekonomian yang baik akan membentuk keluarga yang harmonis dan jauh dari kekerasan. Anak-anak akan tumbuh dalam kasih sayang yang penuh dari orangtuanya. Mereka bisa bermain dan belajar sambil terus tumbuh dan berkembang aman dari penculikan dan perdagangan manusia.

Sebuah pekerjaan besar memang, baik bagi pemerintah maupun kita sebagai bagian dari masyarakat. Namun sesulit apa pun, saya percaya bahwa masih ada dari kita yang peduli dan mengambil bagian dalam Three Ends ini sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya masing-masing.

Yuk, kita bantu pemerintah untuk mewujudkan Three Ends ini dalam rangka menjadikan perempuan Indonesia yang berkualitas, cerdas dan mandiri melalui pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Serempak