Berbicara mengenai asuransi kesehatan yang ada di Indonesia, maka tak mungkin melewatkan tentang BPJS. Layanan BPJS merupakan asuransi kesehatan yang ‘wajib’ dimiliki oleh seluruh warga negara Indonesia – termasuk warga asing yang telah tinggal di Indonesia minimal 6 bulan lamanya. Adanya BPJS sesuai dengan yang diperintahkan dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2011 mengenai APBN. Pelayanan yang diberikan juga termasuk layanan BPJS di rumah sakit.

Berbeda dengan sistem asuransi swasta yang didasarkan pada premi, BPJS menerapkan sistem kelas. Artinya, layanan kesehatan akan tetap diberikan menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien. Yang membedakan adalah pelayanan kelas yang digunakan, yaitu terbagi dalam Kelas I hingga Kelas III. Untuk lebih jelasnya mengenai layanan BPJS di rumah sakit, simak penjelasan berikut:

  1. PBI Dan Non-PBI

Dalam layanan BPJS di rumah sakit seringkali dibedakan menjadi ke dalam PBI dan non-PBI. BPJS dengan sistem PBI merupakan peserta BPJS yang iurannya dibayar oleh pemerintah. Biasanya dokter Faskes I adalah Puskesmas yang menaungi domisili tempat tinggalnya. Semua peserta BPJS PBI mendapatkan fasilitas Kelas III. Sementara itu, BPJS sistem non-PBI merupakan peserta BPJS yang membayar sendiri iuran bulanan dan terbagi dalam Kelas I hingga Kelas III. Yang membedakan adalah peserta BPJS non-PBI diperkenankan memilih dokter Faskes I yang diinginkan.

  1. Sistem Rujukan

Seringkali peserta BPJS dibingungkan dengan sistem rujukan yang diberlakukan. Sistem ini bukan inisiasi dari rumah sakit, melainkan sudah menjadi ketentuan dari BPJS. Peserta BPJS bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit hanya jika mendapatkan rujukan dari dokter Faskes I. Adapun rumah sakit rujukan menjadi wewenang dari dokter Faskes I sesuai dengan gejala penyakit yang diderita oleh pasien. Biasanya rumah sakit yang ditunjuk oleh dokter Faskes I merupakan rumah sakit tipe C.

  1. Rawat Inap Langsung Dari UGD

Dalam keadaan darurat, peserta BPJS  mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di rumah sakit melalui UGD. Seandainya dibutuhkan perawatan lanjutan (rawat inap) sesuai dengan rekomendasi dari dokter UGD, maka peserta masih dapat mengajukan klaim BPJS yang dimilikinya. Adapun kelas pelayanan yang akan diperoleh adalah sesuai dengan golongan kelas peserta BPJS. Hanya saja, BPJS tidak akan menangggung biaya bagi pasien jika dirawat di ICU.

  1. Berlaku untuk Segala Jenis Pelayanan Kesehatan

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, layanan BPJS ini diberikan untuk segala jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh peserta. Mulai dari biaya pembelian kacamata (setiap 2 tahun sekali), hingga biaya perawatan rutin bagi pasien penderita penyakit kronis. Biaya yang ditanggung oleh BPJS termasuk biaya pemeriksaan pendamping seperti pemeriksaan laboratorium, MRI, Rontgen, dan periksaan yang dibutuhkan lainnya.  

  1. Hanya Rumah Sakit Yang Terakreditasi Yang Dapat Melayani Pasien Dengan BPJS

Menurut aturan, BPJS hanya akan bekerja sama dengan rumah sakit yang telah terakreditasi sesuai dengan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit). Artinya, tidak semua rumah sakit dapat menerima dan melayani pasien BPJS. Oleh karena itu, peserta BPJS perlu jeli dalam menunjuk rumah sakit yang akan dituju agar tidak salah pilih rumah sakit. Tidak hanya rumah sakit, klinik dan balai pengobatan pun harus lulus akreditasi agar dapat tetap melayani peserta BPJS.

  1. Hanya Boleh Naik Satu Kelas

Mulai tahun 2019, BPJS memberlakukan aturan baru terkait pasien BPJS yang naik kelas. Sebelumnya, pasien non-PBI memiliki kesempatan untuk menggunakan pelayanan kesehatan di atas kelas yang dimiliki. Misalnya peserta BPJS Kelas II menggunakan layanan kesehatan untuk Kelas I atau bahkan VIP. Kelebihan biaya nantinya akan ditanggung oleh peserta.

Untuk aturan yang baru, proses tersebut hanya diizinkan untuk naik satu tingkat. Artinya, peserta Kelas III hanya bisa naik ke Kelas II, peserta Kelas II naik ke Kelas I, dan peserta Kelas naik ke VIP. Tidak diperkenankan lagi peserta yang naik kelas pelayanan melompati satu kelas di atasnya. Artinya, peserta Kelas III tidak boleh naik ke pelayanan Kelas I. Jika itu terjadi, maka BPJS tidak akan menanggung biaya pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit terhadap peserta tersebut.

Pada dasarnya layanan BPJS di rumah sakit tidak dibedakan dengan layanan yang diberikan kepada pasien umum. Hal inilah yang masih saja disalahpahami oleh orang kebanyakan. Masih banyak yang menganggap bahwa menggunakan BPJS berarti sudah siap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terburuk di rumah sakit, padahal hal tersebut sama sekali tidak benar.(nkh)