Makan menurut kamus bahasa Indonesia artinya adalah memasukan sesuatu kedalam mulut, kemudian mengunyah dan menelannya.Tujuan makan adalah menyediakan nutrisi bagi tubuh agar tubuh sehat dan mendapat energi untuk bergerak. Melihat dari tujuan makan diatas maka jelas asupan makanan yang baik adalah makanan yang bernutrisi dan bergizi, tapi sayangnya harga makanan yang bernutrisi dan bergizi itu harganya cukup mahal.

Harga pangan di Indonesia hingga saat ini masih mahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia, harga beras di Indonesia sudah hampir dua kali lebih mahal  dari pada harga beras dunia. Pada Januari 2016- April 2018 , rata-rata harga beras lokal eceran berada dikisaran Rp.10.700 per kilogram sedangkan harga beras internasional  rata-rata mencapai Rp.5.400 per kilogram. Tim Nasional Percepatan Pemberantasan Kemiskinan (TNP2K) menyatakan bahwa komoditas makanan di Jakarta rata-rata 94% lebih mahal dibandingkan New Delhi, India.Buah dan sayuran di Indonesia harganya lebih mahal dari Singapura.

Untuk itu beberapa  organisasi seperti Center For Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Nutrition International, Lemonilo, Limakilo, Spire Research dan IAAS bergabung untuk mengkampanyekan “Hak Makmur” (Hak Makan Murah) yang bertujuan untuk terwujudnya harga pangan yang terjangkau dan bergizi dan mempromosikan peluang  sejahtera bagi masyarakat miskin Indonesia lewat kebijakan perdagangan yang lebih terbuka dan mendorong pemerintah untuk merevisi kebijakan pangan nasional supaya harga bahan pangan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat agar tercapainya kesejahteraan bagi konsumen, pedagang kecil, serta keluarga dari masyarakat prasejahtera.

Tingginya harga pangan sangat berpengaruh bagi masyarakat khususnya masyarakat prasejahtera, ketidakmampuan masyarakat prasejahtera membeli makanan bernutrisi akan mendorong mereka membeli makanan yang tidak bernutrisi pada akhirnya akan mempengaruhi asupan gizi masyarakat prasejahtera, hal ini akhirnya mendorong tumbuhnya kasus malnutrisi dan stunting di Indonesia.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), M.Maulana berpesan bahwa “masyarakat harus mulai membiasakan diri untuk belanja di pasar tradisional, karena dapat membantu perputaran modal pedagang pasar tradisional dan pedagang bisa terus menjual pangan dengan harga murah berkualitas yang terbebas dari bahan berbahaya seperti formalin dan boraks”. Manfaat Harga Pangan Terjangkau itu bisa untuk semua kalangan seperti :

  1. Konsumen

Dapat membeli bahan pangan dengan kualitas baik dan pilihan sumber nutrisi dan bahan pangan menjadi lebih beragam.

2. Pedagang Kecil

Mengurangi biaya kulakan ketika membeli dari pedagang dan supplier lainnya serta menghemat biaya produksi dengan harga bahan baku yang lebih terjangkau.

3. Keluarga Prasejahtera

Harga pangan menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat prasejahtera dan dapat memenuhi kebutuhan pangan yang bernutrisi bagi keluarga dari masyarakat prasejahtera.

Project Management Officer Center For Indonesia’s Strategic Development Initiantives (CISDI) Siska Verawati berbagi pengalaman saat menjadi relawan ditugaskan di sebuah puskesmas di daerah Sigi Sulawesi yang belum lama ini terdampak oleh gempa “ bahwa di sana pasar sangat jauh dan hanya ada seminggu sekali, jadi tentu perlu biaya besar untuk menuju pasar dan belum lagi harga pangan yang mahal,  jadi solusi untuk daerah pedalaman seperti ini adalah mengoptimalisasi pangan lokal”. seperti di beberapa daerah pedalaman mengolah tanaman-tanaman yang banyak tumbuh disana yang bisa dijadikan makanan yang sehat dan bergizi seperti daun kelor diolah menjadi makanan bergizi seperti puding kelor, sate kelor, nasi goreng kelor dan lain-lain, pemerintah setempat juga membantu dengan menyediakan bibit-bibit tanaman untuk ditanam didekat pemukiman warga seperti contoh kebun gizi di mentawai yang diangap berhasil membantu warga dalan mendapatkan pangan yang murah dan bergizi.

Menurut peneliti dari Center For Indonesian Policy Studies (CIPS) A.Szami Ilman, faktor kenaikan harga pangan adalah :

  1. Iklim

Iklim yang cepat sekali berubah-ubah bisa mempengaruhi harga suatu komoditas, maupun waktu pengiriman stok pangan.

  1. Biaya Logistik / Distribusi

Ketersediaan komoditas didekat sentra konsumsi dan dukungan logistik yang optimal sangat berpengaruh dengan harga komoditas

  1. Jasa Keuangan

87 % petani belum memakai jasa keuangan resmi seperti perbankan, kebanyakan mereka meminjam modal melalui rentenir yang bunganya lebih tinggi dari Bank resmi.

Dalam hal ini pemerintah sudah berupaya dalam menurunkan harga pangan di Indonesia dengan beberapa kebijakan yang pro ketahanan pangan, seperti

  1. Keterjangkauan Pangan (Food Accessibility)
  2. Bantuan kondisional ( Conditionalcash Transfer) seperti program Keluarga Harapan (PKH) BNPT
  3. Ketersediaan Pangan (Food Availability)
  4. Kualitas Pangan

Yuk dukung Hak Makmur ( Hak Makan Murah ) untuk keluarga  prasejahtera di Indonesia agar bisa hidup sehat dan sejahtera, serta dukung semua kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro ketahanan pangan.(ns)