Sudahkah anda tahu bahwa rokok itu berbahaya ? pastinya sudah tahu, karena di setiap kemasan rokok selalu ada peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit jantung, impotensi bahkan kematian. Namun merokok itu sifatnya adiktif, maka para penikmat rokok belum bisa berhenti untuk merokok. Padahal apabila seseorang menghisap rokok maka organ paru-paru akan tertetesi aspal karena rokok itu mengandung nikotin (aspal).

Ada 2 kategori yang dimaksud dengan kelompok rentan yaitu dari aspek kesehatan adalah bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Misalkan seorang ayah merokok di dalam rumah, maka asap rokok nikotin akan terhirup oleh penghuni rumah sehingga angka kematian bayi, balita serta ibu hamil akan meningkat. Sedangkan dari kelompok miskin yaitu yang berpendapatan minimal seperti pekerja bangunan.

Saat ini masyarakat sedang mengadakan campaign #RokokHarusMahal, dimana masyarakat terjun kelapangan untuk mendukung Bahaya Rokok Bagi Kesehatan, karena sekarang ini polusi udara dari kendaraan serta perokok ada di setiap sudut yang menjadi kebiasaan dan sebuah kewajaran. Jadi menghirup udara bersih itu adalah sebuah kemewahan.

Dengan murahnya harga rokok, maka dampak yang timbul di masyarakat keluarga ekonomi menengah dan anak-anak, mereka bisa mengkonsumsi rokok. Karena rokok banyak beredar terlalu bebas dengan harga pasaran Rp 15.000,-. per bungkus dan bisa dibeli per batang dengan harga Rp 1.000,-.

Dari data BPS tahun 2014 hingga tahun 2018 rokok adalah pengeluaran urutan kedua setelah beras, dengan perincian 22% pengeluaran membeli beras, untuk pengeluaran rokok sekitar 12-17%, pendidikan 3% dan untuk kesehatan hanya 3%. Jadi pengeluaran anggaran pendapatan dalam rumah tangga lebih banyak pembelian rokok dari pada pembelian makanan untuk bayi dan balitanya, maupun pendidikan untuk anak-anaknya.

Kategori usia kelompok rentan dalam merokok

Survey dari BPS bahwa kelompok rentan dapat dikategorikan di bawah umur 15 tahun dan diatas 18 tahun, namun di dalam indikator SDGs atau Sustainable Development Goals bahwa persentasi anak-anak yang yang dibawah umum 15 tahun mengkonsumsi rokok cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya.

Dalam hal ini pemerintah sebagai pengemban amanah untuk masyarakat, agar dapat menaikkan tarif cukai dan harga rokok harus dinaikkan. Biaya tarif cukai dihitung sesuai dengan jenis rokok. Inilah 3 macam rokok yang ada di pasaran:

  • Rokok Kretek Mesin
  • Rokok Kretek Tangan
  • Rokok Putih Mesin.

Rokok yang paling mahal yaitu rokok mesin, bila pemerintah menaikkan tarif cukai secara drastis, maka para pengguna rokok akan berkurang. Pada saat ini tarif cukai hanya Rp 100,-. per batang paling murah, sedangkan tarif cukai yang paling mahal Rp 500,-. per batang. Kami menghimbau kepada pemerintah untuk menaikkan harga rokok Rp 50.000,- per bungkus, dan Rp 5.000,- harga rokok per batang. Jadi bila kenaikan tarif cukai 10%, maka akan turun 16% pengguna rokok.

Pada dasarnya secara garis besar, kalau kita ingin mengatasi atau mengendalikan rokok ada 3 kebijakan yang harus kita terjemahkan pada keadaan yang nyata dilapangan :

  • Pencegahan konsumsi rokok bagi yang belum merokok dan penurunan bagi anak usia dibawah 15 tahun.
  • Memperkecil Akses atau tempat-tempat dimana rokok itu bisa dibeli dengan mudah.
  • Membantu orang yang sudah kecanduan rokok.

Mari lindungi anak-anak Indonesia dari target pasar industri rokok.(ss)

2 COMMENTS