Banyak mama muda mengeluh kerepotan saat si kecil ikut-ikut melakukan aktivitas di dapur. Tetapi apa yang saya rasakan sekarang, lalu saya bandingkan dengan para mama yang selalu mengikutkan anaknya dalam kegiatan memasak, saya baru tahu, bahwa membiarkan anak membuat riweh di dapur ternyata lebih banyak manfaatnya, ketimbang kita larang mereka untuk ikut.

Anak saya masih usia 16 bulan, terkadang saya berusaha memasak saat anak lagi dibawa bapak atau embahnya, tetapi jika mereka repot, saya biarkan si kecil ikut meracik bumbu karena saya teringat dengan kisah seseorang yang mengatakan bahwa “anakku loh lanang, ia memang sudah berumah tangga, tapi ia juga tidak kalah pintar dengan istrinya saat di dapur, masakannya enak-enak” kejadian itu membuat saya terinspirasi.

Pasalnya suami saya juga lebih pintar memasak daripada saya, tentunya itu membuat diri ini lebih membiarkan si kecil untuk ikutan di dapur atau ikut nimbrung saat ibunya sedang menyiapkan menu makan sarapan atau makan sore. Adapun beberapa manfaat yang bisa didapatkan ketika si kecil ikut di dapur adalah sebagai berikut:

  1. Saat si kecil nanti sudah besar, ia bisa memasak sendiri ketika mamanya tidak di rumah.
  2. Si kecil tumbuh menjadi anak yang lebih kreatif dalam segala hal.
  3. Si kecil dapat menjadi sosok yang lebih peka saat mamanya butuh untuk dibantu.
  4. Pekerjaan mama menjadi lebih ringan, meski sekarang kerepotan, tentunya akan terbalas nanti ketika ia telah beranjak dewasa.
  5. Tidak mudah mengeluh saat diminta orang tuanya membantu pekerjaan rumah termasuk di dapur.
  6. Menjadi sosok anak dewasa yang lebih mandiri.

Mengapa saya harus mengatakan poin-poin di atas, mengacu pada sebuah literasi tentang perkembangan pikiran dan ide, di dalam buku tersebut mengungkapkan bahwa, seorang anak mempelajari diri dan dunia sekeliling mereka secara bertahap. Mereka mulai belajar dengan cara melihat dan menyentuh benda-benda. Dengan cara melatih mereka melakukan kegiatan di dapur, pikiran dan ide mereka seiring akan berkembang menjadi lebih baik dan lebih sempurna.

Lalu apa untungnya saya membiarkan anak yang berumur 16 bulan di dapur? Mungkin banyak orang yang mengira bahwa anak di usia tersebut akan menambah kesulitan di dalam pengerjaan masak-memasak. Jika dilihat sepintas memang iya, tapi menurut hemat saya, si kecil nantinya dewasa baru akan mendapat manfaatnya, dan juga akan melatih banyak kosa-kata yang dikuasainya seiring berjalannya waktu.

Usia anak 16 bulan, selain perkembangan motoriknya juga bertambah, ia harus mengumpulkan banyak kosa-kata untuk masuk dan terekam dalam memorinya. Guna menambah kata agar ia dapat berbicara secara lancar. Itu juga yang saya lakukan terhadap anak saya, saya mengenalkan kosa-kata untuk menambah perbendaharaan kata perdapuran. Si kecil pun mulai mengenal kata-kata yang ada di dapur.

Selain bermanfaat untuk perkembangan bahasa, dengan mengajaknya di dapur si kecil pun akan dapat menjadi sosok yang peka terhadap sekelilingnya. Pekerjaan itu saya contohkan ketika saya mengajak anak saya ke dapur untuk membersihkan lantai dengan sapu seusai masak, si kecil langsung merebut sapu itu. Kalau orang lain mungkin akan meminta sapu itu, karena akan terasa lama jika harus diganggu si anak, tapi saya, mengambil sapu lain saja. Biar anak menyapu, tapi kita arahkan sambil memberi contoh. Nanti agak dewasa sedikit, si anak akan benar-benar meringankan kegiatan kita dengan cara membantu.

Demikian artikel saya mengenai beragam manfaat saat anak ikut memasak. Semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca. (Nur Chafsah)