Susu Kental Manis (SKM) menjadi sebuah polemik baru di negeri Indonesia. Ada beberapa pendapat yang mendukung adanya Susu Kental Manis tersebut bukanlah susu. Bagaimana sih sebenarnya pendapat yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tersebut.

Sumber: idntimes.com

Menilik lebih jauh bahwa SKMĀ  itu tidak terkandung susu memang menjadi desas-desus yang memprihatinkan. Apalagi kasus ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990, dan baru-baru ini di tahun 2017 hingga 2018 kembali mencuat dengan gempita. Ditambah lagi dengan netizen yang turut mengaminkan apa yang terjadi dengan desas-desus tersebut.

Sekarang kita lihat lebih jauh tentang produk susu yang dijual yaitu adanya susu pasteurisasi, susu UHT (Ultra High Temperature), susu formula, serta susu pertumbuhan. Lalu, SKM ternyata memang benar tidak terdapat di antara empat jenis susu tersebut.

Dan yang perlu diketahui pula bahwa BPOM melalui Surat Edaran (SE) No. HK 06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada produk susu kental manis dan analognya yang berisi larangan penggunaan visualisasi seperti iklan di TV mengenai SKM yang sudah dinyatakan bukan sebagai susu pertumbuhan/formula/pasteurisasi.

Efek dari Surat Edaran tersebut ada produsen yang menggunakan media periklanan dengan secara benar yaitu bahwa SKM bukanlah produk susu untuk diminum, melainkan SKM hanya sebagai resep makanan/minuman dengan toping SKM.

Namun ada pula masalah lain yang muncul. Ternyata surat edaran yang dikeluarkan oleh BPOM ada juga masalah yang muncul seperti masih adanya anak-anak yang menonton TV pada jam-jam penayangan iklan SKM. Di lain pihak, masih ada juga produsen SKM yang menayangkan label SKM dengan labelisasi berupa gambar gelas yang mencerminkan bahwa SKM adalah susu yang bisa untuk diminum.

Nah, dengan adanya Surat Edaran yang dikeluarkan oleh BPOM semakin memperjelas bahwa SKM memang tidak berbahaya jika dikonsumsi sesuai aturan penggunaannya. Jadi harus jelas bahwa SKM memang tidak untuk dikonsumsi setiap hari, tidak untuk dikonsumsi berupa seduhan, tidak untuk dikonsumsi balita, dan SKM perlu dibatas untuk diberikan sebagai konsumsi untuk anak-anak.

Sekarang jika diperhatikan kembali bahwa Surat Edaran yang muncul dari BPOM tersebut yaitu mengindikasikan bahwa produk SKM berkategori sebagai pangan 01.3. Dan dari surat tersebut juga menjelaskan kembali bahwa SKM bukan semata-mata tidak mengandung susu. Dan tidak satu kalimatpun yang menjelaskan bahwa SKM tidak mengandung susu. Namun, surat edaran tersebut lebih kepada melindungi konsumen yang utamanya anak-anak agar penggunaan SKM dipatuhi konsumsinya secara benar dan agar tidak tersesat.

Menilik tentang angka surat edaran baiknya meninjau kembali peraturan BPOM nomor 21 tahun 2016 tentang kategori pangan. Untuk produk susu, memang dilayangkan lebih awal yaitu dengan nomor 01.0 ini menandakan produk susu. Dari produk susu dan analognya yang bernomor 01.0 juga memiliki turunan yaitu 01.1 yang menandakan produk susu dan minuman berbasis susu. 01.2 yang menandakan susu fermentasi dan produk susu hasil hidrolisa enzim renin (plain) kecuali yang termasuk kategori minuman berbasis susu yang berperisa dan/atau difermentasi. 01.3 menandakan susu kental dan analognya. 01.4 menandakan krim (plain) dan sejenisnya. Lalu 01.5 menandakan susu bubuk dan krim bubuk dan bubuk analog. Lalu 01.6 menandakan keju dan analognya. 01.7 menandakan makanan pencuci mulut berbahan dasar susu, dan 01.8 menandakan whey dan produk whey kecuali keju whey.

Sumber: style.tribunnews.com

Jadi semakin diperjelas dengan adanya penomoran bahwa SKM tidak mengandung susu tidak benar adanya. Dan untuk jenis produk ini pula bahwa untuk produk susu itu ada istilah tersendiri yaitu susu kental manis (SKM), krim kental manis, dan krimer kental manis.

Nah, dengan dikeluarkan surat edaran itupula perlu bagi produsen SKM bahwa dalam melaksanakan iklan ke masyarakat tidak serta merta menggunakan visualisasi berupa gelas, yang menandakan bahwa SKM masih merupakan produk susu untuk diminum. Ini, satu hal yang keliru, yang tidak perlu dilaksanakan. Namun, di sini perlu dipahamkan kembali bahwa SKM bukanlah produk untuk diminum layaknya produk susu lainnya.

Jadi, semakin memperjelas bahwa segala pemberitaan perlu diricek kembali secara benar. Terlebih dunia digitalisasi berkembang cepat melalui adanya medsos. Nah, perlu kebijakan masing-masing masyarakat untuk mencerna berita dengan sejelasnya ya. Jangan sampai kebablasan seperti halnya SKM.(sae)

1 COMMENT