Gadis Sarjana Teknik yang Merawat Ukiran Toraja

0
32

Kawan saya kaget ketika saya bercerita baru saja bertemu seorang gadis pengukir di Toraja. Dia yang memang berdarah toraja mengatakan tak pernah tahu bahwa di Toraja ada pengukir perempuan, apalagi gadis. Ya, selama ini hanya laki-laki yang memilih profesi sebagai pengrajin ukiran Toraja. Ini yang membuat Yusri, nama gadis sarjana teknik sipil itu, istimewa.

Saya kenal Yusri lewat sebuah perjumpaan yang tak sengaja, ketika menuruni anak tangga jalan setapak menuju perkuburan Ketekesu, salah satu destinasi wisata utama di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Langkah saya terhenti saat gadis berusia 23 tahun itu sedang duduk menunduk di depan sebuah kios suvenir. Ia sedang khusyuk menekuni sebilah papan kayu berukuran 10×30 cm.

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi lokasi ini. Saat itu saya mengantar seorang rekan kerja yang belum sekalipun menginjakkan kaki di Toraja. Dari empat kali kunjungan saya ke Ketekesu, baru kali ini saya melihat langsung proses Passura’, keterampilan membuat ukiran khas Toraja.

Yusri mendongak saat tahu saya menghampirinya. Senyum gadis berkaos hijau itu mengembang ketika membalas sapaan saya, lalu kembali khusyuk memainkan pisau ukirnya di atas kayu yang sudah dicat hitam. “Ini namanya pisau passura’,” jawabnya ketika saya bertanya tentang pisau yang dipegangnya. Katanya, pisau itu dibuat khusus dengan ujung yang pipih dan sangat tajam.

Tak hanya pisau passura’, saya melihat penggaris dan juga jangka di atas meja kerjanya. Yusri mengatakan, ia sedang mengukir motif garis simetris dan lingkaran di pajangan dinding yang sedang dikerjakannya. Meskipun belum rampung, sudah tampak hasil kerja jemarinya sangat rapi.

Siang itu, Yusri tak sendirian menjaga kios berukuran 5 x 5 meter itu. Seorang laki-laki berusia kira-kira 60 tahun sedang duduk di sudut yang berlawanan dengan tempat kami. Rupanya, sejak tadi ia mengamati perbincangan kami. Keberadaannya baru saya sadari saat ia tiba-tiba berkata soal usahanya, “Ini usaha turun temurun.”

Kepada saya, Yusri memperkenalkan sosok paruh baya itu sebagai bapaknya, orang yang mengajarinya mengukir sejak ia masih di bangku sekolah menengah pertama. Passura’ merupakan keahlian keluarga mereka. Setiap generasi melanjutkan keahlian tersebut. Yusri sendiri adalah generasi keempat yang menekuni keterampilan tersebut.

Yusri mengaku, dalam sehari dirinya bisa menyelesaikan satu atau dua pajangan kayu, tergantung motif, jenis, serta ukurannya. Selain pajangan dinding yang berbentuk persegi panjang, ada berbagai jenis suvenir yang diukir dengan motif toraja. Miniatur rumah tongkonan, tempat tissue, asbak, nampan, alas gelas, jam duduk hingga meja bulat banyak diproduksi dengan pilihan motif ukir yang beraneka. Saya sempat menanyakan beberapa motif kerajinan yang dijual di sana. Menurut Yusri, motif ukiran yang dia hasilkan tidak sama persis dengan ukiran zaman dulu. Beberapa sudah mengalami modifikasi, tanpa menghilangkan makna dan filosofi motif asalnya.

Beberapa motif lawas dipertahankan, seperti motif Bomboai, istilah lokal untuk serangga air yang lincah. Motif ini melambangkan kesabaran, kekuatan, dan kelincahan. Motif ayam jantan atau, dalam Bahasa Toraja, Manuk Londong melambangkan keadilan. Adapun motif matahari (barre’ allo) melambangkan kehidupan dan kerbau (tedong) melambangkan kemakmuran.

Hampir semua kerajinan yang dihasilkan oleh Yusri dan keluarganya menggunakan Kayu Uru’, jenis kayu yang banyak tersedia di Toraja. Jika diamati, semua kerajinan ukir toraja memiliki kombinasi warna yang hampir sama, antara hitam, merah, kuning dan putih. Keunikan setiap pengrajin lebih ditonjolkan lewat pengembangan motif ukiran, bukan permainan warna. Warna-warna itu didapatkan dari tanah dan batu.

Yusri tiba-tiba menyodorkan beberapa bongkahan kecil ke hadapan saya, papan ukirnya digeser agak menjauh. Kali ini Ia benar-benar menghentikan aktivitas mengukirnya untuk melayani semua pertanyaan saya. Masih dengan senyum mengembang, ia menjelaskan bahwa warna putih dihasilkan dari batu kapur yang banyak ditemui di Toraja. Begitu pula dengan warna kuning, dari sejenis bebatuan lunak yang juga diperoleh di Toraja. Meskipun banyak tersedia di Toraja, bukan berarti ia bisa mengambil begitu saja. Ada pemasok khusus yang menyediakan pewarna tersebut. Satu bongkahan kecil dibeli dengan harga Rp. 15.000 hingga Rp. 30.000. Untuk pewarna merah, Yusri membeli dari Mamasa.

Anak muda yang memilih melestarikan budaya daerahnya itu amat mengagumkan bagi saya. Sebagai sarjana teknik sipil jebolan sebuah perguruan tinggi swasta di Makassar, Yusri tentu punya pilihan profesi lain yang lebih bergengsi. Namun, Yusri memilih untuk menekuni Passura’ untuk membantu bisnis orangtuanya.

Obrolan satu jam di kios Yusri terpaksa saya sudahi karena harus segera beranjak ke tempat lain. Saya bangga bisa mengenal gadis ini. Di antara pengrajin ukir yang nyaris semuanya lelaki, ada seorang gadis luar biasa yang siap untuk memelihara budaya daerahnya. Bagi saya, Yusri adalah aset negeri yang pantas dijadikan contoh bagi anak muda seusianya. (abt)